"Dia sudah setahunan jadi debt collector," kata kakak sepupu M Sholeh, Willy, kepada detikcom di depan kamar jenazah RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (4/4/10).
Willy 2 hari lalu masih berkomunikasi telepon dengan korban. Dia mengaku sudah pernah menasihati M Sholeh untuk meninggalkan pekerjaannya itu. Willy menyatakan pekerjaan korban itu berbahaya.
"Tapi dia bilang nggak apa-apa, memang risiko pekerjaannya begini. Lagian kan saya (M Sholeh) nggak mesti yang maju ke depan, yang penting pantau-pantau suasana," kata Willy menirukan perkataan adik sepupunya.
Kekhawatiran Willy tersebut beralasan, sebab Willy menilai jenis pekerjaan tersebut tidak sebanding dengan perawakan tubuh kecil sepupunya itu.
"Dia kan memang perawakannya kecil, takutnya dia nggak tahu permasalahannya apa, tahu-tahu jadi korban (karena nggak bisa melawan)," jelasnya.
Willy mengaku masih belum mengetahui pasti bagaimana sampai M Sholeh terbunuh. "Kronologi pastinya saya nggak tahu," imbuhnya.
Namun begitu, Willy mengaku keluarganya telah menyepakati jenazah M Sholeh akan segera dibawa ke Bengkulu untuk dimakamkan, jika proses otopsi sudah selesai.
Sementara itu, istri M Sholeh, Puji masih tampak syok dan menangis. Keluarga yang berdatangan pun mencoba menenangkan pengantin yang baru menikah 6 bulan itu. (amd/fay)











































