Selain stok darah di Indonesia yang minim, kantong darah saja di Indonesia masih mengimpor dari luar negeri. Indonesia juga belum mempunyai pabrik pengolah darah.
"Kantong darah saja kita impor. Padahal negeri ini punya karet yang banyak, tapi kita ekspor ke luar," keluh Kalla saat kunjungan ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa waktu lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama ini kita buang-buang plasma itu, karena tak punya teknologi. Kita harus ciptakan dan berbuat, dan mengolah untuk ditransfusikan," jelas JK. Dengan tidak adanya pabrik pengolahan darah, selama ini Indonesia rugi milyaran rupiah tiap tahunnya.
Rencananya, pabrik darah ini akan mulai dibangun JK tahun depan. "Kita bangun pabrik kantong darah dulu, baru pabrik pengolahan darah," ucapnya.
Untuk pabrik kantong darah, JK berencana akan memproduksi hingga 3 juta kantong. Pada tahun kedua, barulah 4 juta kantong. Namun lokasi pembangunan pabrik belum ditentukan. Menurut JK, nilai investasi sebesar Rp 1 trilyun.
JK kini juga gencar melakukan kampanye donor darah. Sebabnya, stok darah di Indonesia sangat jauh dari stok ideal yang harusnya 2% dari jumlah penduduk. Berarti minimal Indonesia punya stok darah 4 juta kantong. Namun kenyataannya, pada tahun 2009, hanya 0,7 persen.Β Β
"Bagaimana seandainya negara ini tiba-tiba dilanda bencana atau perang, mau apa kita," tutur JK.
(gun/fay)











































