Namun memang bukan pantai pasir yang dinikmati pengunjung di Losari. Puluhan warung makanan membentang sepanjang radius satu kilometer, mulai dari Tanjung Bunga hingga ke kawasan Jalan Nusantara. Pantai Losari sudah mengalami perubahan setelah pembangunan proyek reklamasi dan revitalisasi di kawasan ini.
"Sudah beda, Bang. Dulu pantainya kelihatan, sekarang sudah dibangun beton-beton seperti dermaga saja," ungkap Andi, mahasiswa UMI yang menemani detikcom di sela-sela peliputan Muktamar ke-32 Nahdlatul Ulama (NU) di Makassar, Sulsel, Minggu (28/3/2010) lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Paling enak dimakan saat masih hangat," ujar Andi lagi.
Saat ini, warung-warung tenda seafood telah dipindahkan ke depan rumah dinas Walikota Makassar, masih di Pantai Losari. Pada sore hari, semua orang lalu bisa menikmati detik-detik tenggelamnya matahari.
Menurut data dari sejumlah sumber, pembenahan Pantai Losari menelan dana Rp 3,1 miliar. Dana ini digunakan untuk pembersihan, penimbunan dan pembangunan pelataran yang bisa dinikmati sekarang.
Selama pelaksanaan Muktamar NU, banyak peserta muktamar yang menyempatkan diri berkunjung ke Pantai Losari. Mereka juga menyempatkan mengunjungi Benteng Rotterdam, Makam Pangeran Diponegoro dan Makam Syekh Yusuf di Gowa.
(zal/fay)











































