Saat detikcom berkunjung, Minggu (28/3/2010) lalu, tampak dua muda-mudi asyik duduk di atas tembok tua Benteng Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan. Tembok menghitam dan berlumut tidak menjadi masalah buat mereka menikmati pemandangan Pantai Losari di hadapan mereka.
"Ini ramai sekali, banyak peserta Muktamar NU datang ke sini. Kalau biasanya, hanya pelajar yang datang," kata juru parkir itu yang ditemui detikcom.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang benteng ini dibiarkan begitu saja, seperti apa adanya. Di dalam juga ada museumnya, Bang," ungkap Andi, mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang ditemui di Benteng Rotterdam.
Masuk ke Benteng Rotterdam memang gratis dan mudah diakses karena ada di pusat kota. Fort Rotterdam adalah salah satu benteng megah di Sulawesi Selatan. Benteng ini awalnya merupakan peninggalan Kesultanan Gowa, yang berjaya pada abad ke-17 dengan ibu kota di Makassar.
Benteng ini dibangun tahun 1545 oleh Raja Gowa X yang bernama Imanrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung atau Karaeng Tunipalangga Ulaweng. Pada 1655-1669, Belanda pernah menyerang Kesultanan Gowa yang saat itu dipimpin Sultan Hasanuddin. Tujuannya untuk menguasai jalur perdagangan rempah. Armada perang Belanda pada waktu itu dipimpin oleh Admiral Cornelis Janszoon Speelman. Sultan Gowa kalah dan dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667.
Speelman kemudian membangun kembali benteng yang sebagian hancur dengan model arsitektur Belanda. Benteng yang tadinya segi empat diubah menjadi segi lima dengan 5 menara jara (bastion) di setiap sudutnya. Benteng ini dinamakan Fort Rotterdam, nama kota tempat kelahiran Speelman.
Sejak saat itu, Benteng Rotterdam berfungsi sebagai pusat perdagangan dan
penimbunan hasil bumi dan rempah-rempah, sekaligus pusat pemerintahan Belanda di
timur Nusantara. Dinding benteng ini kokoh menjulang setinggi 5 meter dengan tebal dinding sekitar 2 meter. Pintu utamanya berukuran kecil.
Di dalam benteng ini, juga terdapat Museum La Galigo yang diresmikan pemerintah
pada tahun 1974. Masih di dalam benteng, juga terdapat sebuah bangunan kuno yang
dulunya menjadi ruang tahanan Pangeran Diponegoro yang diasingkan dari Tanah
Jawa oleh Belanda, usai Perang Jawa 1825-1830.
Ruang tahanan bekas Pengeran Diponegoro, merupakan sebuah sel penjara dengan dinding melengkung namun amat kokoh. Di ruang itu disedikan sebuah kamar kosong beserta pelengkap hidup lainnya seperti peralatan salat, Al Quran, dan tempat tidur. Makam Pangeran Diponegoro saat ini menghadap Jl Diponegoro, tak jauh dari Pasar Sentral Makassar dan perumahan yang padat.
(zal/fay)











































