"Sebagian besar yang terjebak merupakan pekerja migran yang berasal dari provinsi Shanxi, Hebei, Hunan, dan Guizhou," ujar salah satu tim penyelamat, seperti diberitakan kantor berita Xinhua dan dilansir news.com.au, Senin (29/3/2010).
Air mulai menerjang masuk ke dalam kawasan tambang Wangjialing di Provinsi Shanxi, Sabtu 28 Maret lalu. Padahal saat itu sebanyak 261 pekerja tambang sedang bekerja di bawah tanah di areal pertambangan yang memiliki luas 180 kilometer persegi tersebut.
Jumlah pekerja yang terjebak di dalan pertambangan yang dimiliki oleh Perusahaan Batubara Huajin Coking ini masih belum pasti. Namun, menurut perhitungan tim penyelamat setempat, jumlah pekerja yang terjebak mencapai 153 orang.
Terhadap hal ini, Presiden Hu Jintao dan Premier Wen Jiabao meminta pemerintah setempat untuk meningkatkan upaya penyelamatan para pekerja. Sedangkan Wakil Premier Zhang Dejiang terjun langsung ke lokasi untuk mengawasi jalannya proses penyelamatan.
Insiden ini merupakan yang kesekian kalinya dari serangkaian insiden yang terjadi di tambang batubara. Tahun lalu, catatan statistik pemerintah menyatakan sebanyak 2.631 pekerja tambang di China tewas dalam insiden di tempat kerjanya.
Tambang batubara di China merupakan salah satu tempat yang paling berbahaya di dunia. Standar keamanannya seringkali diabaikan, yang difokuskan hanyalah mengejar keuntungan dan memenuhi permintaan batubara. Sebagian besar pekerjanya bahkan diperkerjakan dengan kontrak kerja yang kurang layak.
(nvc/nwk)











































