Kisah Tower Air yang Tak Berair

Kisah Tower Air yang Tak Berair

- detikNews
Minggu, 28 Mar 2010 10:24 WIB
Jakarta - Tinggi bangunan itu 30 meter dan berdiri megah. Bahan baku seluruhnya terbuat dari beton. Itulah tower air yang semula digunakan untuk menampung air bagi masyarakat Depok. Namun kini, tower tersebut tidak lagi berisi air.

Tower yang terletak di Jl Kejayaan, Depok, Jawa Barat itu praktis tidak ada lagi kegunaannya. Ratusan anak tangga yang biasanya digunakan untuk mengecek debit air pun sudah reyot dan rapuh. Di bagian bawah, yang ada hanyalah kantor yang digunakan sebagai loket pembayaran air bagi masyarakat Depok Timur.

Menurut Kepala Seksi Teknik tower, Djoko Suyono, bangunan ini sudah ada sejak tahun 1979 silam. Saat itu, PT Cipta Karya lah sebagai kontraktornya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masa pembuatannya sendiri membutuhkan waktu setahun. Setelah bangunan berdiri, mereka pun menyerahkan kepada Pemkab Bogor. Di masa itu, harga pembuatan yang mencapai Rp 200 juta tentu bukanlah jumlah yang sedikit.

"Harga per sak semen waktu itu masih Rp 900. Pak Adam Malik yang resmiin," terang Djoko yang sudah bekerja sejak tower berdiri.

Awalnya, tower ini digunakan untuk menampung 700 meter kubik air. Air ini nantinya akan mengairi warga pelanggan PDAM mulai dari Cilondong hingga Cimanggis.

Seiring waktu berjalan, banyak pelanggan yang mulai mengeluh dengan aliran air dari tower tersebut. Kucuran air seringkali diikuti dengan tekanan angin.

"Kasihan warga, meterannya (air) kan tetap berjalan kalau kena angin, makanya sekarang kita langsungin aja alirannya," ujar Djoko.

Sejak tahun 1990an, sebuah pengolah air dari Sungai Ciliwung yang terletak di Jl Lenggong, Depok II, bertanggung jawab penuh terhadap alirannya. Dari sinilah air akan langsung mengairi ribuan pelanggan PDAM.

"Jumlah pelanggan kita sudah mencapai 14 ribuan," imbuhnya.

Cukup disayangkan jika bangunan semegah ini justru tidak lagi digunakan semestinya. Ada 16 pilar besar yang dibuat untuk menopang tempat penampungan air sedalam 11 meter. Penampungan air itu juga ditutup. Di bagian tengahnya sengaja dibuat lubang bagi petugas yang ingin masuk ke dalam mengecek air.

Tower ini, cerita Djoko, sudah sempat dua kali digunakan bagi orang stres yang ingin bunuh diri. Selama beberapa hari, orang tersebut berdiri di puncak tower, siang dan malam.

"Untung aja nggak loncat," kelakarnya.

Depok sendiri memiliki empat tower air yang memiliki tinggi dan daya tampungan air yang berbeda-beda. Namun memiliki kesamaan, yakni tidak lagi berisi air. Di Depok II serta Depok I yang memilki dua tower.

Pantuan detikcom, tepat di pucuk tower di Jl Kejayaan dan Depok II tersebut kini justru dikontrak oleh salah satu operator telekomunikasi. Namun soal jumlah kontrak, Djoko meminta agar ditanyakan ke kantor pusat PDAM Bogor.

"Mulai dari 3 tahunan yang lalu, datang aja ke kantor pusat yah," tandasnya. (mok/mok)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads