Pusat Kebudayaan Indonesia di Brussel Diresmikan

Laporan dari Brussel

Pusat Kebudayaan Indonesia di Brussel Diresmikan

- detikNews
Sabtu, 27 Mar 2010 19:31 WIB
Pusat Kebudayaan Indonesia di Brussel Diresmikan
Brussel - Seperti negara-negara maju punya Pusat Kebudayaan di Jakarta, Indonesia kini punya Pusat Kebudayaan di ibukota Uni Eropa, Brussel.

Pusat Kebudayaan Indonesia di Boulevard de la Woluwe 38, Brussel, Belgia, itu secara resmi dibuka oleh Duta Besar RI untuk Kerajaan Belgia, Uni Eropa (UE) dan Luksemburg Nadjib Riphat Kesoema, Jumat (26/3/2010) waktu setempat.

Tampak hadir antara lain para Dubes ASEAN, Jepang, Eropa, anggota parlemen UE, pimpinan lembaga sosial-budaya, museum, sineas dan kalangan wartawan Belgia.

"Pusat Kebudayaan Indonesia di Brussel ini akan menjadi jembatan kegiatan, tidak hanya mengenal kebudayaan, kesenian dan bahasa tapi juga melihat dari dekat kemajuan Indonesia secara luas," ujar Dubes Nadjib pada pidato sambutan pembukaan.

Dikatakan, pihaknya memandang bahwa Pusat Kebudayaan Indonesia saat ini perlu segera didirikan sebagai representasi dan promosi keindonesiaan di jantung ibukota Uni Eropa.

"Kami hadirkan lembaga ini agar berbagai pihak berkepentingan bisa lebih dekat, mudah dan akrab dengan keanekaragaman kekayaan Indonesia," demikian Nadjib.

Nadjib juga menyambut gembira dukungan Dirjen Pemasaran Pariwisata Dr Sapta Nirwandar, yang mengirimkan tim kesenian dari Kembudpar Jakarta khusus untuk acara pembukaan ini.

Sementara itu sineas lepas berkebangsaan Prancis Allain Woodey mengapresiasi lembaga ini sebagai langkah maju. "Ini gagasan luarbiasa sebagai instrumen memperluas jangkauannya kepada publik Eropa," demikian Woodey, yang pernah membuat film dokumenter tentang Indonesia.

Secara terpisah, Konselor Menteri Pensosbudpar Diplomasi Publik PLE Priatna kepada detikcom menjelaskan bahwa lembaga Pusat Kebudayaan Indonesia Brussel ini nantinya akan menaungi kegiatan lengkap kesenian, bahasa, kuliner, perfilman dan diskusi kebudayaan.

"Pusat Kebudayaan Indonesia ini adalah yang pertama didirikan di Eropa," tegas Priatna.

Menurut Priatna, jenis kegiatannya antara lain pelatihan gamelan dan tari Bali, kursus bahasa Indonesia, kursus membatik, kursus memasak resep Indonesia, pagelaran kesenian, dan juga akan diisi ruang pamer produk berbasis kebudayaan maupun produk ekspor Indonesia.

Acara pembukaan dan peresmian diisi serangkaian pagelaran kesenian, pameran dan demo membatik, pameran kerajinan dan makanan siap saji dari Indonesia serta sederet stan sate ayam, nasi goreng, mie goreng dan cendol.

"Sederet karya cipta nenek moyang sebagai resep asli asal Indonesia, ternyata menjadi sajian lezat yang digemari undangan," demikian Priatna.

(es/es)


Berita Terkait