Pantauan detikcom di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (27/3/2010), Mbah Sahal yang sedang berada di ruangannya tak jauh dari Gedung Muzdalifah, langsung didatangi 3 calon kuat Ketum PBNU.
Mereka yang merapat ke Mbah Sahal yakni KH Said Aqil Siradj, KH Ahmad Bagdja, dan Slamet Effendy Yusuf. Ketiga calon itu bersama elite NU lainnya sedang menunggu Mbah Sahal yang sedang berada di dalam kamar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketiga calon Ketum PBNU itu menyatakan terpilihnya Mbah Sahal sebagai Rais Aam sudah tepat. KH Said Aqil misalnya, menilai terpilihnya Mbah Sahal merupakan bukti bahwa muktamirin memilih dan menjaga tradisi NU dengan mengedepankan kiai sepuh untuk menduduki Rais Aam. Said juga mengapresiasi sikap Hasyim Muzadi yang mundur dari pencalonan sebagai Rais Aam, sehingga Mbah Sahal ditetapkan secara aklamasi.
"Itu bukti bahwa tradisi NU masih terjaga. Khittah NU masih dihargai. Kami juga mengucapkan selamat dan apresiasi yang tinggi kepada KH Hasyim yang tulus dan ikhlas mundur demi menjaga keutuhan NU," kata Said.
Hal yang sama juga disampaikan Ahmad Bagdja. Menurutnya, ulama sepuh harus didahulukan untuk meneruskan kepemimpinan di Dewan Syuriah. Bagdja juga memuji sikap Hasyim yang tidak bersedia dicalonkan.
"Ya, saya kira itu yang terbaik. Sehingga kita bisa sama-sama menjaga tradisi NU," tutup mantan Sekjen PBNU ini.
Slamet Effendy Yusuf juga demikian. Menurutnya, pemilihan jabatan Rais Aam memang tidak dikenal di NU, dan harus mendahulukan kiai sepuh untuk posisi itu. Namun demikian KH Hasyim yang mundur tetap harus diakomodir dalam kepengurusan.
"Salam tradisi NU itu tidak ada istilah berebut. KH Hasyim harus ikut serta dalam pengurusan nanti. Ke depan butuh ulama yang berpengalaman dan ulama yang fakih. Jadi ada kombinasi KH Sahal dan KH Hasyim," tutup Slamet. (Rez/nrl)











































