Peluncuran kembali lembaga ini berlangsung di Wisma Duta Tramlaan, Brussel, dengan tuan rumah Duta Besar RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa Nadjib Riphat Kesoema dan Ketua Komisi I DPR RI Kemal Stamboel, Rabu (24/3/2010).
Keduabelas anggota parlemen Eropa tersebut dimotori oleh Nirj Deva (Partai Konservatif dari Inggris), Johanes Cornelis Van Baalen (Partai Aliansi Liberal dan Demokrat dari Belanda) serta Ana Maria Gomes (Partai Sosialis Portugal dan mantan Dubes Portugal di Jakarta).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indonesia menyambut gembira inisiatif yang diinginkan para anggota parlemen Eropa untuk mengembangkan persahabatan lebih erat dengan Indonesia, membuka peluang kerjasama maupun dialog di segala bidang," ujar Dubes Nadjib dalam pidato sambutan pembukaan.
Menurut Nadjib, peluncuran kembali lembaga persahabatan ini adalah momentum tepat guna memperkuat ruang jelajah Indonesia untuk membangun komitmen a thousand friend and zero enemy (seribu teman dan nul lawan, red).
Ketua Komisi I DPR Kemal Stamboel menyambut gembira dan memberikan apresiasi tinggi atas prakarsa, yang telah dilakukan KBRI Brussel untuk membangun jaringan politik lebih luas.
Dikatakan bahwa pembentukan lembaga ini merupakan langkah sangat baik untuk turut menyambut dan mengisi Partnership Comprehensive Agreement (persetujuan kemitraan komprehensif, red) Indonesia-UE.
"Parlemen di kedua pihak bisa menjadi akselerator yang mempercepat kemitraan tersebut berjalan," tandas Stamboel.
Sementara itu Nirj Deva dalam sambutannya mengatakan bahwa lembaga untuk memperluas persahabatan ini dapat dimanfaatkan sebagai forum dialog, di mana UE dapat belajar banyak dari Indonesia.
Deva, yang pernah menjadi Ketua Tim Observer Pemilu Indonesia 2004, juga menyampaikan kekagumannya atas perkembangan yang terjadi di Indonesia. Sebagai negara demokrasi ketiga terbesar, dengan peduduk mayoritas muslim, Indonesia dapat mengelola dinamika kemajemukan dengan toleransi sangat tinggi.
"Eropa bisa belajar banyak tentang manajemen pluralisme di Indonesia serta melihat demokrasi dan keragaman bisa berdampingan," cetus Deva.
Sedangkan Van Baalen menegaskan betapa penting Indonesia di mata Eropa dalam rangka membangun demokrasi dan memajukan kerjasama dengan negara-negara Eropa.
"Lembaga persahabatan ini dapat menjadi kendaraan tepat untuk mendorong kerjasama konkrit dan semakin luas menyentuh kehidupan masyarakat," tambah Van Baalen.
Secara terpisah, Konselor Menteri Pensosbud Diplik PLE Priatna kepada detikcom mengatakan, terbentuknya lembaga yang didorong Dubes dan tim bidang politik sejak Januari 2010 membuktikan bahwa pandangan anggota parlemen Eropa terhadap Indonesia tumbuh lebih baik dan cukup menjanjikan.
"Lembaga ini bisa menjembatani kepentingan publik di kedua belah pihak guna membangun kesepahaman maupun kegiatan bersama," demikian Priatna.
(es/es)











































