"Jika memang diberi amanat, saya siap," kata Ma'ruf usai menerima perwakilan pengurus NU wilayah Lampung dan Banten di kawasan Muktamar NU ke-32 di Asrama Haji Embarkasi Makassar, Sudiang, Makassar, Kamis (25/3/2010).
Ma'ruf Amin yang juga menjadi salah satu ketua MUI ini menyatakan bersedia menjadi Rais Am, dan bersedia mundur dari posisinya sekarang jika muktamirin memilihnya menjadi orang nomor 1 yang menduduki jabatan tertinggi di organisasi Nahdlatul Ulama (NU) tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika ditanya soal adanya intervensi pihak kekuasaan dalam muktamar NU kali ini, kiai asal Banten ini pun menyatakan kemungkinan itu bisa saja terjadi. "Tapi sejauh mana kemungkinan itu saya tidak tahu," kata Ma'ruf.
Walau begitu, lanjut Ma'ruf, hubungan NU dengan pemerintah harus tetap dijaga, yang tentunya bukan dalam konteks hegemoni-kooptasi. "Cara berpikir NU dari dulu memang begitu. Selama tidak melampaui batas, mau diberi nasihat dan tuntunan, maka NU tidak membuat jarak dengan penguasa," tandasnya.
Ma'ruf juga menegaskan, tidak ada hubungan sama sekali keberadan dirinya sebagai Wantimpres sebagai alat pemerintah. "Mungkin presiden berkepentingan memperoleh nasehat dari saya. NU punya akses politik dengan siapa pun dan saya tetap independen, tetap khittah NU, tetap berpegang pada fiqrah nahdliyyah," terangnya.
"Itu landasan warga NU. Tapi boleh saja orang mengisukan ada intervensi, khususnya untuk jabatan Rais Am yang memang harus steril dari politik," pungkasnya.
Dengan kesiapan KH Ma'ruf Amin dan KH Maimun Zubair menjadi Rais Am, jumlah kandidat Rais Am kembali bertambah menjadi 4 orang. Padahal, sebelumnya yang santer dibicarakan menjadi Rais Am hanya KH Sahal Mahfudz dengan KH Hasyim Muzadi. (zal/yid)











































