"Kejadiannya itu para pengunjung setelah selesai sidang bergerombol di pintu masuk untuk menemui beberapa pimpinan ormas yang hari itu hadir. Ada juga yang mau menemui saya, pengen salam. Biasa, karena bergerombol jadi sulit berjalan. Tidak ada yang dipukul," kata salah seorang pengacara TPM, Mahendradatta kepada detikcom, Rabu (24/3/2010). Pernyataan ini untuk menanggapi berita detikcom tentang 'Pemohon Uji Materi Dipukul & Ditendang Oleh Pendukung UU'.
Suasana yang ramai saat itu memang membuat beberapa orang terdorong. Namun, dengan tegas ia membantah jika ada salah seorang pengacara yang dipukul anggota tubuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, massa yang berjubel di depan pintu masuk tidak jelas identitasnya. Tidak semua yang hadir di luar ruang sidang tersebut berasal dari pendukung UU Penodaan Agama.
"Itu sangat membaur, mohon tidak ditulis pendukung atau penolak undang-undang. Biasa karena bergerombol jadi sulit berjalan," lanjutnya.
Terkait adanya beberapa anggota dari pemohon uji materi yang mengaku dipukul, Mahdendradatta menilainya sebagai sebuah skenario untuk semakin memojokkan organisasinya. Untuk menjaga kondisi agar tetap kondusif, ia berharap tidak ada statemen-statemen yang bersifat provokatif.
"Kami sejak insiden Monas sudah sangat takut. Tidak mungkin seperti itu lagi. Mereka memainkan pola dizalimi, pola provokatif. Bagaimana memancing agar dipukul, agar dikerasi, lalu mengalihkan persoalan supaya mendapat simpati. Lagipula di situ kan banyak polisi. Kalau memang dipukul kenapa tadi nggak ada yang bereaksi," paparnya.
Lebih lanjut Mahendradatta menegaskan, dalam sidang berikutnya dijamin suasana akan tetap kondusif. Tidak ada insiden lanjutan yang perlu dikhawatirkan.
"Saya jelaskan, tidak ada lagi yang perlu khawatir. Sidang MK cukup kondusif," tutupnya.
(mad/asy)











































