"Kalau semuanya menghendaki, saya bersedia. Tapi kalau diusulkan, saya kurang setuju. Ulama itu biasanya, seperti dalam sebuah hadis, senang menonjolkan diri itu kurang baik. Saya tidak mencalonkan diri," kata Mbah Mun kepada wartawan di Asrama Haji Embarkasi Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (24/3/2010).
Terkait adanya usulan agar KH Hasyim Muzadi yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum PBNU menjadi Rais Am mendatang, Mbah Mun tak mau berkomentar banyak. Namun dengan bahasa yang lembut, dia menyindir langkah Hasyim jika mau menjadi Rais Am.
"Itu nanti terserah ke muktamirin lah. Karena kiai itu ulama. Ulama dulu dan sekarang kan lain," jawabnya sambil tersenyum.
Demikian juga terkait banyaknya pihak yang menghendaki untuk mempertahankan KH Sahal Mahfudz sebagai Rais Am, Mbah Mun juga tak mau berkomentar. Namun Mbah Mun mengaku dirinya lebih senior dari Mbah Sahal.
"Itu terserah muktamirin. Saya tidak akan minta ke muktamirin. Kiai Sahal itu lebih enom (muda) dari saya. Saya itu angka 8, Sahal 7. Kita juga dulu sama-sama di Sarang. Jadi terserah muktamirin, saya tidak akan komentar," tegasnya.
Menurut salah satu sesepuh PPP ini, NU sedang menghadapi masa peralihan. Bila di masa lalu, untuk menjadi pimpinan NU harus berasal kalangan pesantren dan mempu menguasai kitab kuning. "Kini pakai yang perguruan tinggi dan lainnya. Sekarang bukan seperti dulu lagi. Tapi, jiwanya harus menurut yang dahulu," ujarnya.
Saat ditanya siapa tokoh yang terkuat akan menjadi ketua PBNU, Mbah Mun menjawab diplomatis, "Saya pastinya sudah ada gambaran, pastinya tahu lah," kata Mbah Mun sambil tersenyum. (zal/yid)











































