"Untuk mendinamisir organisasi, dibutuhkan sosok sekjen yang kuat, visioner, berkarakter, dan pekerja keras. Mas Hilmi kita anggap sangat layak untuk memegang amanah tersebut," kata Sekjen Majelis Alumni IPNU Asrorun Niam Saleh dalam rilis yang diterima detikcom, Senin (22/3/2010).
Hilmi dinilai merepresentasikan kombinasi antara ulama-profesional, tua-muda, dan Jawa-luar Jawa. Hal yang membuat posisi Hilmi Muhammadiyah dibanding calon-calon lainnya karena dia berasal dari Makassar dan lama berkiprah di PBNU. Hilmi pernah menjabat sebagai Wakil Sekjen PBNU dan terakhir sebagai Wakil Ketua LDNU serta Ketua Umum IPNU.
Terkait agenda muktamar, Niam mengusulkan, sebagai salah satu kekuatan elemen strategis bangsa, NU harus mendorong regulasi pendidikan yang memihak pada pesantren dan warga NU. "Dan untuk itu diperlukan kepemimpinan kolektif NU yang kuat, visioner dan berkarakter agar gagasan NU dapat ditransformasikan dalam regulasi nasional," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ajang Konsolidasi
Untuk mengkonsolidasikan kekuatan, alumni IPNU yang mayoritas menjadi pengurus NU menggelar Halaqah dan Silaturahmi Nasional Alumni di Wisma Perindustrian Makassar.
"Kebanyakan Pengurus Cabang NU merupakan alumni IPNU, untuk itu forum ini sangat strategis guna mengusung tema pendidikan agar menjadi mainstream NU ke depan," kata Ketua Umum Presidium Pusat Majelis Alumni IPNU Hilmi Muhammadiyah.
Untuk menjaga kebersamaan, NU ke depan harus merangkul seluruh potensi untuk membangun NU. "Mari kita jadikan Muktamar sebagai konsolidasi untuk menyatukan kekuatan, merawat kader, memperkokoh NU guna membangun bangsa", pungkas Hilmi.
(yid/gah)











































