Latihan Densus 88 itu dilakukan di Dusun Pejeluk, 25 kilometer arah timur Kota Mataram. Lebih dari 100 orang aparat gabungan Densus 88 Mabes Polri dengan Brimob Polda NTB mengepung sebuah rumah berdinding bambu di dusun itu. Rumah berada di pinggir jalan desa yang belum beraspal.
Pukul 10.00 Wita, Senin (23/3/2010), warga dikagetkan, karena aparat kepolisian tiba-tiba menutup akses jalan desa itu. Tak ada pemberitahuan apapun dari polisi. Pada saat bersamaan, polisi berseragam dengan senjata lengkap, bergerak mengendap, dan mulai mengepung rumah bedek. Rumah yang agak jauh dari pemukiman itu, diketahui warga setempat tak berpenghuni.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut warga, polisi tidak memberitahukan kejadian sebenarnya. Saat polisi melokalisir rumah yang dikepung itu, Warga yang kebetulan berada di luar rumah diminta menyingkir hingga radius 100 meter dari rumah yang tengah dikepung. Warga yang tengah berkendara juga dicegat.
Sebagian warga yang saat itu tengah di sawah dan memanen padi sontak menghentikan aktivitas mereka dan berlarian ketakutan. Apalagi mereka juga mendengar baku tembak terus terjadi.
"’Warga benar-benar tidak tahu. Dari desa juga tidak ada pemberitahuan," ujar Hirjan yang sehari-hari sebagai guru dan pengurus Karang Taruna di desa itu.
Polisi baru memberitahu warga setelah lebih dari satu jam baku tembak berlangsung. Mengetahui itu hanya sebuah latihan, warga mengaku lega.
Kepala Bidang Humas Polda NTB AKBP Sukarman Husein di Mataram Senin sore mengakui kalau latihan itu memang tidak diberitahukan pada warga secara memadai. "’Ada yang sudah diberitahu tentu. Tapi memang tidak semua," katanya.
Ia menjelaskan, dalam latihan itu terjadi baku tembak, dan satu bom meledak. Namun bukan bom high eskplosif.
(djo/djo)










































