Wacana Koalisi PD-PDIP di Mata Istana

Wacana Koalisi PD-PDIP di Mata Istana

- detikNews
Sabtu, 20 Mar 2010 20:05 WIB
 Wacana Koalisi PD-PDIP di Mata Istana
Jakarta - Bergabungnya PDIP dalam koalisi partai politik pro-pemerintah yang PD galang, bukan sekedar untuk keperluan mendukung pemerintahan SBY-Boediono. Bergabungnya dua partai besar itu juga mempersiapkan regenerasi bagi kelangsungan kepemimpinan bangsa untuk periode 2014-2019.

“Pak SBY dan Bu Mega mungkin tidak akan jadi presiden lagi, tetapi masih tetap bisa mewarnai politik nasional sebagai tokoh bangsa. Untuk itu mereka harus bersatu. Untuk bergabung tidak mungkin 2014, mustinya mulai sekarang dong,” komentar Heru Lelono, staf khusus Presiden RI bidang informasi, Sabtu (20/3/2010).

Meski untuk kepentingan 2014, namun kebersamaan PD dan PDIP harus dirintis mulai sekarang sehingga bisa langsung bergerak pada waktunya kelak. Terlebih proses Pansus Century yang baru berlangsung membuktikan beberapa mitra koalisi justru mengambil posisi berseberangan dengan PD.

“Golkar sudah menipu, PKS apalagi...,” gugat Heru.

Lebih lanjut dia memprakirakan Pemilu dan Pilpres 2014 punya kerawanan cukup tinggi terkait masih minimnya politikus muda yang menonjol ketokohannya di pentas nasional sehingga bisa memicu perpecahan. Di dalam kapasitas selaku politikus senior dan berpengaruh, SBY dan Megawati sudah seharusnya bersatu demi mencegah perpecahan.

Heru mengakui sepanjang berjalannya Pansus Century, banyak bermunculan politikus muda. Tapi yang dia sayangkan, tampil para politikus muda dengan segala sikap vokal masing-masing baru sebatas dramatisasi untuk memperkenalkan eksistensinya kepada masyarakat dibandingkan proses politik yang matang.

“Itu menunjukkan banyak tokoh muda yang ingin tampil, saya yakin mereka juga berpikir 2014 -siapa tahu ada kesempatan toh? Menurut saya cara-cara itu akan jadi blunder,” sambung pria yang ikut membidani lahirnya PD namun menolak bergabung dengan PD itu.

Menyinggung pesimisme bergabungnya SBY-Mega, di mata Heru hal tersebut justru sebaliknya. Kompetisi dua tokoh itu dalam Pilpres 2004 dan 2009 bukan halangan, sebab keduanya yang sudah saling mengenal sejak lama itu sesungguhnya punya kesamaan ideologi politik dan pemikiran soal kebangsaan.

“Begini ya, jangan Pak SBY itu dianggap sebagai lawan politik Bu Mega. Benar bahwa dua beliau itu kompetitor dalam pemilihan Pilpres, tapi bukan lawan politik, karena ideologinya sama. Saya yakin Bu Mega juga berpikiran sama,” pungkas Heru yang sempat lama terlibat dalam sepak terjang PDIP.

(lh/ape)


Berita Terkait