Yang terbaru, Taufiq kembali menggemborkan soal wacana koalisi permanen PDIP-Partai Demokrat dengan cara menyamakan ideologi kedua partai yang 'selalu' bermusuhan ini. Sebelumnya Taufiq 'seperti' menjamin bahwa PDIP akan berkoalisi dengan PD. Perubahan sikap ini dipilih karena tidak mungkin selamanya PDIP menjadi oposisi.
Keyakinan Taufiq bahwa PDIP akan menjadi bagian dari koalisi ini seperti sudah hampir final. Sebab, dalam beberapa kesempatan, dia menegaskan keputusan soal itu hanya menunggu kongres memutuskan saja. Tetapi benarkah demikian? Sejauh manakah kekuatan Taufiq di PDIP sehingga terkesan sangat dominan dan berani berbeda dengan arus kader PDIP dan Megawati sendiri soal pilihan sikap oposisi?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mbak Mega masih memegang kendali penuh kekuatan PDIP. Memang beberapa elite DPP sudah ikut Pak Taufiq, tetapi kalau keputusannya di Kongres, Bu Mega masih menang kalau Bu Mega masih konsisten. Karena pengurus DPC dan DPD masih ikut Ibu Mega," papar pengurus DPP PDIP tersebut kepada detikcom, Kamis (19/3/2010).
Menurut dia, Megawati saat ini hanya didampingi oleh kekuatan PDIP senior dan beberapa anak muda PDIP yang tidak masuk gerbong Taufiq. Nama Theo Syafei dan Maruarar Sirait dkk disebut-sebut yang selama ini berada di balik kekuatan Megawati.
"Tidak heran kalan Ara (Maruarar) beberapa waktu lalu bicara Pak Taufiq kita hormati, tetapi tidak kita taati. Ini bukti di anak muda PDIP, Ara termasuk yang satu barisan dengan Bu Mega. Sementara, di kalangan seniornya yang nampak jelas bersama Bu Mega ya Pak Theo Syafei. Yang lain masih remang-remang," paparnya.
Sementara, kekuatan Taufiq Kiemas saat ini memang dipenuhi oleh elite-elite PDIP yang selama ini sudah cukup populer di media. Sumber itu menyebut beberapa nama tenar seperti Pramono Anung, Tjahjo Kumolo, Panda Nababan, Puan Maharani dan lain-lain.
"Nama-nama di atas itulah yang sekarang bersama dengan Pak Taufiq. Tetapi Ibu Mega kan tidak suka membuka di media, makanya beliau diam saja. Tetapi sikap Ibu jelas dan tegas," imbuhnya.
"Karena sikap yang berbeda inilah, kemarin ada isu, Bu Mega memunculkan nama putranya, Prananda Prabowo, yang akan dipercaya melanjutkan estafet kepemimpinanya. Bukan Mbak Puan yang dinilai kurang konsisten dan tidak patuh sama Ibu," imbuhnya.
Lalu, benarkah PDIP akan berkoalisi dengan PD sebagaimana kemauan Taufiq Kiemas? Dengan tegas sumber tersebut menyangkal. Menurutnya, sampai saat ini Megawati masih tetap keras dan tegas akan menjadikan PDIP sebagai partai oposisi.
Jika keputusan oposisi harus diputuskan di Kongres dengan meminta persetujuan pengurus DPC dan DPD PDIP, maka Mega diyakini akan memenangkan pilihan oposisi. Kecuali Megawati sendiri mengikuti kemauan Taufiq Kiemas Cs yang ingin membawa PDIP menjadi partai koalisi dengan konsesi beberapa kursi menteri dan konsesi lainnya.
"Kalau keputusannya di Kongres, maka Bu Mega kemungkinan masih menang. Sebab mayoritas basis masih bersama Ibu. Kecuali Ibu memang menghendaki ikut dengan Pak Taufiq, akan lain ceritanya," paparnya.
"Bu Mega itu politisi senior dan gaek. Beliau tahu bagaimana bersikap dan menghadapi tekanan. Saya yakin Ibu masih akan tetap mempertahankan posisi PDIP seperti selama ini. Ingat kan kasus koalisi menjelang pilpres? Pak Taufiq hampir saja menyatukan PDIP dengan PD, tetapi akhirnya kan tetap saja Ibu Mega yang memutuskan. Dan keputusnnya Ibu maju sendiri," imbuhnya.
"Ini artinya, Pak Taufiq boleh berusaha, tetapi keputusan akhirnya tetap di Ibu Mega," pungkasnya.
(yid/nrl)











































