Sebuah surat elektronik bertanda Presiden AS Barack Obama pun sampai ke redaksi detikcom, Rabu (18/3/2010) semalam. Obama ingin menjelaskan kepada semua pihak betapa isu kesehatan sangat menjadi perhatiannya, bahkan sampai menunda kunjungannya ke Indonesia.
"Tinggal beberapa hari tersisa dan semua yang telah kita kerjakan (untuk reformasi kesehatan) sudah pada jalurnya. Dukungan dari Anda semua sekarang semakin dibutuhkan," kata Obama.
Obama menjelaskan kenapa isu kesehatan menjadi sangat krusial di AS. Presiden yang akan berkunjung ke Indonesia pekan depan ini mengisahkan tentang Natoma Canfield.
"Natoma adalah penderita kanker dan untuk itu dia menjadi nasabah asuransi kesehatan," Obama memulai kisahnya.
Namun, perusahaan asuransi terus menaikkan preminya tiap tahun. Bahkan sampai US$ 10.000 (Rp 91 juta) tiap bulan. Natoma tak sanggup lagi dan berhenti menjadi nasabah asuransi. Dia lalu menyurati Obama dan berkeluh kesah.
"Dua minggu lalu Natoma kolaps. Dia terkena leukimia (kanker darah). Dia kebingungan bagaimana dia bisa selamat secara finansial. Saya sekarang bicara karena Natoma," jelas Obama.
Menurut dia, ternyata masih banyak warga negara AS lain seperti Natoma. Penghasilan mereka tidak seberapa dan mereka berhadapan dengan premi asuransi kesehatan yang mahal. Ketika mereka sakit, sudah tidak ada.
"Ibu saya juga meninggal karena kanker. Dalam enam bulan terakhir hidupnya, saya masih melihat dia berdebat dengan perusahaan asuransi kesehatannya," ungkap Obama.
Oleh karena itu, Obama meminta warga AS untuk bergerak 'menekan' Kongres (DPR) AS. Caranya dengan menelepon atau menyurati Kongres, penggalangan massa, atau menyebar informasi lewat Facebook dan Twitter. Obama juga menggalang dukungan di internet lewat my.barackobama.com.
Jika reformasi kesehatan ini berhasil, Obama menjanjikan sejumlah hal. Perusahaan asuransi tidak boleh menolak klien. Rakyat AS yang akan menyiapkan asuransi kesehatan bisa mendapat pengurangan pajak.
"Para politisi di Washington butuh keberanian untuk menghadapi berbagai kepentingan yang sudah lama menghambat reformasi kesehatan ini," pungkas Obama.
(fay/ken)











































