Obama, Pluralisme dan Indonesia

Obama, Pluralisme dan Indonesia

- detikNews
Kamis, 18 Mar 2010 00:37 WIB
Obama, Pluralisme dan Indonesia
Jakarta - Terpilihnya Barack Obama menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) ke 44 mengundang sejumlah tanda tanya besar bagi dunia. Benarkah rasisme telah punah di negara Paman Sam itu?

Berbagai diskusi dan spekulasi pun bermunculan, kala anak Menteng tersebut disumpah menjadi Presiden AS, menjadi presiden AS berkulit hitam pertama dalam sejarah. Obama pun kini menjadi tokoh atau icon pluralisme dunia.

"Di tahun 60-an, Amerika masih sangat rasis, tapi sekarang seorang Afro bisa menjadi presiden. Tidaklah heran dia bisa disebut tokoh pluralis," ujar Ketua Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Maria Ulfa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maria menyampaikan hal itu dalam diskusi berjudul 'Obama dan Pluralisme' di Galeri Cafe, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Rabu (17/3/2010) malam.

Terpilihnya Obama tambah Maria, bisa membawa perubahan besar bagi pengakuan pluralisme di negara tersebut. "Dari seorang Bush yang sangat kanan tiba-tiba digantikan Obama yang begitu kontroversial, pluralis, dan terbuka. Ini harapan baru tentunya," tandas Maria.

Dalam diskusi tersebut juga dijelaskan jika pluralisme bukanlah paham yang mencampuradukkan setiap ajaran agama, melainkan sikap saling menghormati setiap perbedaan.

"Pluralisme itu bukan sinkretisme yang mencampuradukkan setiap ajaran agama. Dan Obama dihargai karena itu, bahkan ketika dia disumpah, seluruh pemuka agama diundang," tambah Direkur Pasca Sarjana IAIN Syarief Hidayatullah Azyumardi Azra di tempat yang sama.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh penulis novel "Obama Anak Menteng", Damien Dematra. Menurut Damien, pluralisme yang tumbuh subur dalam semangat Obama dikarenakan masa lalunya yang pernah tinggal di Indonesia.

"Masa kecil beliau yang menjadikan pluralis, dia selalu dibilang bule hitam sama teman-temannya," ujar Damien.

Semasa tinggal di Indonesia tambah Darmien, Obama sudah terbiasa hidup dengan perbedaan dan itulah yang membuatnya menghargai perbedaan. "Dia punya pembantu bernama Kurdi yang agak kewanita-wanitaan, teman-temannya juga berbeda. Itu yang membuatnya sangat pluralis," pungkas pria gondrong ini.

(her/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads