Sedikitnya 1.000 liter darah ditumpahkan di depan pintu masuk kantor pemerintahan Abhisit di Bangkok. Darah tersebut dikumpulkan dari 100 ribu demonstran sejak hari Senin 15 Maret 2010.
"Darah kami adalah simbol kebersamaan. Kami semua bersatu, kita bicara dengan bahasa yang sama. Kami ingin demokrasi," kata pendonor darah pertama, Dai Tongsiripat, kepada The Age, Selasa (16/3/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang masyarakat sudah mengorbankan darahnya seperti ini, bagaimana dia (Abhisit) tidak membuat pengorbanan yang sama dengan menanggalkan jabatannya?", kecam Weng.
Namun, aksi ini rupanya tidak berlangsung lama. Setelah puas menumpahkan darah, para demonstran kembali ke rumah masing-masing dan situasi kota Bangkok pun kembali normal.
(mad/Ari)











































