"Sebenarnya begini ceritanya, ketika mendekati kongres, ada wacana mau memunculkan garis ideologis yang melanjutkan Mbak Mega. Nama Putih Guntur Soekarnoputra pun muncul karena dianggap pas. Tetapi Mbak Putih nggak mau bertarung sama Mbak Puan, mungkin nggak enak atau nggak berani. Akhirnya dimunculkanlah nama Prananda Prabowo," kata Anggota Bappilu DPP PDIP Budi Mulyawan kepada detikcom, Senin (15/3/2010).
Menurut Budi, Megawati bahkan saat ini sering membawa dan mengenalkan sosok Prananda ketimbang Puan Maharani. Hal ini dinilai kader PDIP Mega sedang menyiapkan kader penerusnya yang dinilai lebih pas dan layak baik dari sisi pengetahuan maupun ideologi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, kader PDIP berharap munculnya sosok keturunan Mega dalam politik PDIP tidak otomatis menempati posisi strategis sebagai ketua umum. Sebab, kondisi politik nasional dan internal PDIP yang masih terjadi dinamika sangat tidak kondusif jika langsung dipimpin orang baru dan dari unsur keluarga.
"Saya setuju saja dengan siapapun yang dipilih nanti. Tetapi, kelihatannya baik itu Mbak Puan maupun anak Mbak Mega, Prananda, kalau langsung mereka mengambil alih dan menerima tampuk kepemimpinan Mbak Mega, dalam kondisi transisi dan politik nasional yang goncang, mereke belum terlalu siap. Jadi mesti dikawal," terangnya.
Sebelumnya beredar isu melalui email, soal transisi kepemimpinan dari Megawati ke Puan Maharani, nampaknya tidak berjalan mulus. Sebabnya sikap politik Puan yang selama ini tidak konsisten dan tidak tidak searah dengan ibunya, Megawati. Puan dinilai lebih condong ke Taufiq Kiemas.
Isu inilah yang kemudian memunculkan nama baru Putra Kedua Megawati Soekarnoputri, H.M. Prananda Prabowo. Saat ini Prananda diangkat oleh Ketua Steering Committee Kongres III PDI Perjuangan Theo Syafei sebagai Wakil Sekretaris SC. Nampaknya Theo Syafei melihat ada potensi besar pada anak kedua Mega ini.
Hal ini terbukti ketika Rapat Steering Committee di Hotel Atlet Century Senayan 8-12 Maret 2010 yang lalu, mas Nanan panggilan akrabnya seorang yang sangat ideologis terlihat langsung menguasai masalah dan dijuluki sebagai 'Kamus Berjalan Bung Karno'. Nanan juga dinilai selama ini sebagai tempat 'berlindung' ibunya, Megawati, ketika mendapat masalah keluarga. Demikianlah bunyi email tersebut.
(yid/iy)











































