Dia adalah buruan nomor wahid aparat keamanan di Indonesia dan Filipina. Bahkan pemerintah AS bersedia mengganjar siapa pun yang berhasil menangkap atau menemukan pria kelahiran Pemalang, Jateng, 6 Juni 1970, itu sebanyak US$ 10 juta atau setara Rp 93 miliar.
Sejak 2002, Dulmatin ditengarai kabur ke Filipina. Dia "berjuang" bersama kelompok garis keras Abu Sayaf. Sejak belasan tahun pula, media Filipina sering melansir kabar kematiannya akibat serangan bertubi-tubi militer setempat. Namun berulang kali pula pemerintah Filipina melansir bahwa dia masih hidup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Kepala Angkatan Laut Filipina Mayor Jenderal Juancho Sabban, Dulmatin, pemimpin Jamaah Islamiyah wilayah Asia Tenggara, tidak ikut tewas dalam baku tembak dengan militer Filipina pada 2008 lalu.
"Menurut sumber yang saya miliki, saya yakin dia masih hidup dan sedang berada di Pulau Sulu," kata Sabban seperti dikutip AFP.
Dulmatin dituduh membantu Jamaah Islamiyah dan bertanggung jawab atas ledakan bom Bali 2002 lalu yang menewaskan 202 orang, termasuk 88 warga Australia. Dulmatin sebelumnya diyakini tewas dalam baku hantam dengan polisi Filipina pada Januari 2008 lalu.
Tes DNA terhadap jasad yang diduga Dulmatin waktu itu memang masih diragukan kebenaran jasad tersebut adalah Dulmatin.
Apakah jenazah yang tewas di Pamulang itu benar Dulmatin? Mari kita nantikan keterangan resmi Mabes Polri. (nrl/iy)











































