Fosfat, sulfur, dan aluminium yang menjadi bahan dasar membuat bom, diracik dengan detonator, timer dan campuran material seperti baut, mur, gotri atau paku.
"Banyak sekali dipasaran. Kita ambil satu perseratus dari bom di kamar 1808. Kita racik di pipa PVC, maka hasil ledakan akan membuat serpihan (yang ada di sekelilingnya)," kata saksi ahli dari Puslabfor Mabes Polri, Komisaris Besar Andri Kamil di sidang lanjutan terdakwa Amir Abdullah di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Senin (8/3/2010).
Andri menilai, berdasar sisa-sisa ledakan, minimal 20 kg bahan peledak
dipergunakan untuk mengebom JW Marriott. Sementara di kamar 1808 yang belum sempat meledak, bahan peledak yang digunakan sebanyak separuhnya.
Lokasi pengeboman di JW Marriott, lanjut Andri, berdampak lebih besar dari Ritz karena ukuran ruangan lebih kecil.
"Bahan peledak diletakkan di sebuah wadah dan ditaruh di tas. Diberi
detonator, diberi mur dan baut. Mur dan baut itu untuk memberi efek ledakan. Kecepatannya 1.000 meter/detik," imbuhnya.
Dengan kecepatan sebesar itu, Kamil menduga efek bom akan sangat besar. Tubuh akan tercacah. Besi juga dapat jebol. Bahkan dalam radius tertentu, akan meruntuhkan tembok atau langit-langit.
"Kalau yang high explosive, kecepatan mur atau baut diatas 5.000 m/detik. Kalau kena kepala, kepala langsung lepas. Besi bisa jebol," tandas Kamil saat menggambarkan efek bom tersebut.
(Ari/nik)











































