Aksi damai yang diprakarsai Jaringan Nasional Perempuan Mahardhika itu digelar di simpang empat Tugu Yogyakarta, Senin (8/3/2010) mulai pukul 10.00 WIB. Para peserta aksi yang sebagian besar perempuan itu mengenakan ikat kepala merah bertuliskan 'Setara dan Merdeka'.
Para demonstran juga membawa berbagai poster di antaranya bertuliskan 'Tolak Poligami', "Tolak UU Pornografi', 'Tolak Diskriminasi Perempuan', dan 'Perjuangkan Keterwakilan Perempuan'. Di barisan depan peserta aksi, terbentang spanduk bertuliskan '100
Tahun Perjuangan Pembebasan Perempuan'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
perempuan di legislatif juga masih minim, yakni di bawah 15 persen.
"Saat ini perempuan Indonesia harus bangkit dan berani keluar rumah untuk bekerja," katanya.
Di sektor pendidikan dan kesehatan, kaum perempuan Indonesia juga dinilai masih mengalami marginalisasi. Demikian pula di bidang tenaga kerja, banyak buruh perempuan mendapat upah yang tidak layak. Padahal tenaga mereka sudah diperah habis akibat kapitalisasi.
"Upah yang layak dan adanya jaminan keselamatan kerja harus kita perjuangkan agar bisa setara," teriak Widyawati.
Selain meneriakkan yel-yel perjuangan bagi kaum perempuan, massa juga menyerukan agar mengganti pemerintahan SBY-Boediono yang pro kapitalis dan meninggalkan para elit politisi busuk serta kaum reformis gadungan.
Usai menggelar aksi di Tugu Yogyakarta selama 45 menit, massa kemudian melanjutkan aksi longmarch menuju kawasan Malioboro dan akan berakhir di simpang empat Kantor Pos Besar Yogyakarta. Aksi damai tersebut tidak mendapat pengawalan ketat aparat kepolisian. Aparat hanya mengatur arus lalu-lintas yang dilalui peserta aksi agar tidak memacetkan arus.
(bgs/djo)











































