Aksi yang akan dimulai pukul 09.00 WIB ini mengambil tema 'Perempuan Keluar Rumah, Berduka Dan Menggugat SBY-Boediono Atas Kegagalannya Mengakhiri Kekerasan Terhadap Perempuan'.
Ketua Badan Eksekutif Nasional Solidaritas Perempuan, Risma Umar, mengatakan peringatan Hari Perempuan Internasional ini menjadi simbol kebangkitan perempuan untuk mengakhiri diskriminasi dan berbagai situasi ketidakadilan berbasis gender.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Khususnya perempuan nelayan, buruh migrant perempuan, petani perempuan dan perempuan miskin kota," kata Risma lewat pernyataan tertulis kepada detikcom, Senin (8/3/2010).
Risma menjelaskan, pemerintah Indonesia telah meratifikasi CEDAW (Convention On Elimination of Discrimination Against Women) melalui UU No 7 Tahun 1984 dengan semangat ada kebijakan yang dapat melindungi perempuan. Namun, katanya, sepanjang 25 tahun UU ini berlaku, justru semakin banyak kasus-kasus kekerasan dan pelanggaran hak dasar perempuan terutama perempuan dalam kelas masyarakat marjinal.
"Ini karena pemerintah Indonesia sebagai pihak yang memiliki akuntabilitas untuk menghormati, memenuhi dan menjamin perlindungan terhadap perempuan masih setengah hati dalam mengimplementasikan UU tersebut," kata Risma. (lrn/van)











































