Soal Bentrokan Makassar, Media Massa Harus Usung Jurnalisme Damai

Soal Bentrokan Makassar, Media Massa Harus Usung Jurnalisme Damai

- detikNews
Minggu, 07 Mar 2010 22:29 WIB
Makassar - Dalam beberapa hari ini, berita bentrokan antara mahasiswa Makassar melawan polisi dan warga menghiasi headline berbagai media massa di negeri ini. Hal ini kemudian menggiring opini miring publik tentang kondisi Makassar yang diliputi kengerian akibat sajian berita bentrokan setiap saat dan generalisasi kebrutalan mahasiswa Makassar.

Oleh karena itu media massa diharapkan bisa lebih arif mengusung 'Jurnalisme Damai' agar dampak pemberitaannya tidak memprovokasi dan menakut-nakuti warga yang mengonsumsi sajian berita dari media massa, serta dapat meredam melebarnya konflik.

Kesimpulan di atas merupakan hasil diskusi 'Telaah Agenda Media dalam Pemberitaan Konflik' yang digelar AJI Makassar dan PJI Sulsel, di kafe Pelni, di jalan Nikel Raya, Makassar, minggu (7/3/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Husain Abdullah, salah satu wartawan senior Makassar yang didaulat sebagai pembicara dalam diskusi ini, seorang jurnalis harus jeli mereportase suatu konflik dan bisa menelisik mana yang alamiah dan mana konflik yang sifatnya 'by design'.

Media harus menyajikan berita secara utuh tanpa penggalan, agar publik bisa mendapat gambaran komprehensif terkait peristiwa konflik yang disajikan ke publik. "Jurnalis harus sadar bahwa medianya itu adalah salah satu alat propaganda paling efektif oleh pihak tertentu yang punya kepentingan, jadi media massa harus mengedepankan jurnalisme damai agar publik bisa dicerdaskan, tidak sekadar ditakut-takuti," pungkas Husain Abdullah yang juga menjabat Press Officer mantan Wapres Jusuf Kalla.

Sementara menurut Ketua KPID Sulsel, Aswar Hasan, media massa tidak boleh sekedar memberitakan peristiwa yang terjadi begitu saja, seperti yang sering ditayangkan media televisi berita dalam program 'live on location' ketika bentrokan terjadi di Makassar.

Media massa, lanjut Aswar, juga harus memberitahu pada publik penyebab terjadinya peristiwa dan dampak peristiwa bentrokan tersebut. "Media massa harus menoleh ke belakang, terkait agenda setting media dalam memberitakan konflik dan memberi ruang bagi Jurnalisme Investigatif menjadi mahkota dalam pemberitaan media," ungkap dosen Komunikasi Massa Universitas Hasanuddin ini.

Selain membahas pentingnya Jurnalisme Damai dalam isu bentrokan mahasiswa Makassar, para peserta diskusi juga berkesimpulan tentang kuatnya dugaan adanya skenario pengalihan isu Bailout Bank Century, dalam kasus bentrokan di Makassar.

"Berita penggrebekan teroris di Aceh saja kalah ratingnya dengan berita bentrokan mahasiswa versus koalisi polisi-warga di Makassar," ujar Muannas yang pernah menjabat Ketua AJI Makassar periode tahun 2003-2005.

(mna/lrn)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini