"Jangan terlalu kelamaan menyelesaikan masalah. SBY harus memahami beginilah situasi ke depannya, koalisi belum tentu mengikuti apa yang dikatakan SBY. Kalau ada masalah, SBY harus ambil langkah, ambil sikap untuk lobi, mengatakan bertanggung jawab dan sebagainya," ujar pengamat politik dari Indo Barometer, M Qodari, kepada detikcom, Kamis (4/3/2010).
Menurut Qodari, kondisi koalisi sekarang sangat unik. Koalisi justru tidak sesolid dibandingkan pemerintahan 5 tahun lalu saat Partai Demokrat (PD) hanya menempati urutan kelima dalam pemilu.
"Agak ironis dan menarik justru di periode Pemerintahan SBY di mana sekarang Demokrat lebih besar tetapi ternyata koalisi lebih dinamis dibanding 5 tahun yang lalu," jelas Qodari.
Qodari menilai, bukan langkah yang tepat apabila SBY menyikapi hasil Paripurna Century kemarin dengan menceraikan partai koalisi yang berseberangan dengannya. Menurut Qodari, alasan SBY memberhentikan menteri dari partai koalisi yang berseberangan tidak dapat diterima masyarakat.
"Agak sulit kalau mau ganti menteri, karena sekarang berarti alasannya politis. Bukan karena kompetensi, masyarakat menerima reshuffle kalau masalah kompetensi atau ada permasalahan hukum," terang Qodari.
Qodari menjelaskan, langkah SBY semakin berat untuk membubarkan koalisi karena secara hitung-hitungan, SBY butuh partai pengganti untuk mendukung pemerintahannya. Namun Qodari meyakini mencari partai pengganti untuk dirangkul masuk dalam koalisi pemerintahan sangat sulit.
"PDIP saya yakin akan sulit sekali dirangkul. Gerindra ternyata tidak mau masuk juga (koalisi) ke dalam seperti yang terjadi semalam," tandasnya.
(ddt/iy)











































