Dari awal Pansus Century dibentuk, politisi PKS dan Partai Golkar terlihat berani dan sering berlawanan dengan pesan-pesan yang dibawa PD. Hingga sampai sidang paripurna kedua digelar pada Rabu (3/3/2010), sikap Fraksi PKS dan Fraksi Partai Golkar tetap tegas. Mereka menetapkan bahwa penyelamatan Bank Century dengan pemberian fasilitas pinjaman jangka pendek (FPJP) dan merupakan kebijakan yang salah.
Sedangkan PPP bermain dengan menyusuri jalan berkelok-kelok, meski akhirnya para politisi Fraksi PPP memilih opsi C yang menyatakan bahwa penyelamatan Bank Century bermasalah. Di Pansus Century, para politisi PPP tampak berani dan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang tajam kepada para saksi yang diperiksa sebagaimana politisi PKS dan PD.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Condongnya Fraksi PPP kepada koalisi pendukung SBY-Boediono semakin terlihat saat mengusulkan dalam lobi penggabungan opsi A dan C. Fraksi PPP berada dalam satu barisan bersama Fraksi PD, Fraksi PAN dan Fraksi PKB. Dalam voting untuk menentukan perlu tidaknya opsi AC (penggabungan opsi A dan opsi C), hampir semua anggota FPPP memilih setuju.
Namun, Fraksi PPP berbalik arah setelah voting pertama menghasilkan opsi AC ditolak. Dalam voting kedua, semua anggota Fraksi PPP yang hadir memilih opsi C. Kontan saja, sikap Fraksi PPP ini mendapat tepukan dari para pendukung opsi C.
Hanya Fraksi PAN dan Fraksi PKB yang tetap setia dengan PD sebagai pemimpin koalisi. Sejak awal sidang paripurna hingga akhir sidang paripurna, Fraksi PAN dan Fraksi PKB selalu sejalan dengan dengan PD.
Sementara itu, para parpol yang tidak bergabung dalam koalisi selalu tancap gas berlawanan dengan PD. Fraksi PDIP dan Fraksi Partai Hanura terlihat paling keras. Sedangkan Fraksi Partai Gerindra sempat melakukan akrobat politik, meski akhirnya dalam sidang paripurna berada dalam barisan opsi C.
(asy/anw)











































