Kesan overacting anggota DPR dalam sidang paripurna itu diungkapkan Fahri (20), seorang karyawan swasta.
"Jelas overacting. Sebagai awam saya melihat sebagai wakil rakyat bukan seharusnya berperilaku seenaknya saja. Otak dia kan lebih baik dari otak kita," ujar Fahri yang ditemui detikcom di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Selasa (2/3/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seperti Ruhut saja, kalau di depan media televisi seperti apa, pas waktunya break dia balik ketawa-ketawa sama yang lainnya, seperti sandiwara. Kelewat batas, ada yang mau menjatuhkan SBY seperti Pramono Anung, Akbar Faizal dan Maruarar Sirait," tukasnya.
Fahri sendiri mengaku kurang paham dengan seluk beluk kasus Century sendiri. "Kita tahunya Sri Mulyani diwawancara dan dia merasa tertipu oleh BI, ngucurin dana Rp 631 miliar nggak ngertinya nambah sampai Rp 6,7 triliun. Kalau memang dananya sangat dibutuhkan, ke mana saja dana itu?" ujarnya.
Ada pula yang menilai kericuhan itu karena pimpinan sidang yang juga Ketua DPR Marzuki Alie terlalu egois.
"Ketua DPR itu kurang memberi ruang bagi anggotanya untuk mengusulkan pendapat. Belum-belum sudah diketuk palu. Terlalu egois, tidak mendengar anggotanya," ujar Marlen Sembiring yang berprofesi sebagai pedagang di kawasan Kemayoran itu.
Marlen meminta ke depan, sebagai anggota DPR harusnya berpikir lebih jernih dan tidak sampai gontok-gontokan seperti itu.
Sementara Ina (28) menilai ulah DPR itu seperti anak kecil yang suka bertengkar.
"Kayak anak kecil banget. Padahal anggota dewan itu perwakilan rakyat. Harusnya pakai urat dong, jangan gontok-gontokan gitu. Seorang anggota dewan kan harus bijak," tukas Ina usai berolahraga di Monas sore itu.
Kendati tidak terlalu paham atas silang sengkarut Bank Century, setidaknya Ina melihat kinerja Pansus Century belum menemukan titik terang. Dia meminta agar aliran dana bailout Century ditelusuri hingga tuntas.
Malah Rio (22), seorang mahasiswa Universitas Gunadarma menilai sikap DPR dalam sidang paripurna itu buruk dan tidak perlu ditiru.
"Yang jelas sifat begitu tidak perlu ditiru. Keadaan masih belum jelas, kepastian dana larinya Century ke mana, rakyat yang bawah belum tahu," ujarnya.
Dia menambahkan DPR harus memperbaiki sikapnya itu untuk benar-benar menguak kasus Century. "Yang jelas butuh perbaikan. Dari pertama sikap dulu. Dari sikap mencerminkan perilaku, dan itu perilaku keburukan," jelasnya.
Rio yakin sebenarnya DPR tahu sebenarnya ke mana aliran dana bailout Bank Century itu, asal ada keberanian mengungkapnya.
"Saya yakin suatu saat pasti ketahuan. Satu saja kebongkar yang lainnya pasti ikut kebongkar ke mana larinya dana Century itu," harapnya.
Sedangkan suami-istri Martono (56) dan Arnayeti (55) mengaku kecewa atas ulah para wakil rakyat dalam sidang paripurna hari Senin itu.
"Kecewa saya. Malu lihatnya. Sudah dipercaya masyarakat kok begitu. Dari tadi pagi lihat TV capek lihat ribut-ribut begitu," ujar Arneyati yang diamini suaminya itu.
Kinerja Pansus Angket Century menurutnya sangat bagus, segala sesuatunya terbuka. Namun amat disayangkan jika akhirnya harus ribut-ribut begitu.
"Tolong jangan sampai nggak karuan begitu. Kerjakanlah yang lebih baik, kebenaran dicari, keadilan ditegakkan, jangan sampai ribut-ribut begitu," tutur wanita yang saat itu sedang mengasuh cucunya di Monas ini.
"Rakyat bisa menilai kok. Rakyat itu cinta sama SBY," timpal Martono.
(nwk/irw)










































