Melongok Perawatan Anjing di Balai Kesehatan Hewan Ragunan

Melongok Perawatan Anjing di Balai Kesehatan Hewan Ragunan

- detikNews
Senin, 01 Mar 2010 14:45 WIB
Melongok Perawatan Anjing di Balai Kesehatan Hewan Ragunan
Jakarta - Suara gonggongan anjing terdengar menyambut begitu masuk ke balai ini, Senin (1/3/2010). Suara anjing-anjing itu terdengar cukup nyaring di tempat yang jauh dari keramaian lalu lintas Ibu Kota.

Itulah suasana Kantor Balai Pelayanan Kesehatan Hewan Dinas Peternakan DKI Jakarta, Jl Ragunan, Jakarta Selatan (Jaksel). Di tempat itu, banyak hewan-hewan liar yang ditampung dan mendapatkan perawatan. Namun, hewan yang dirawat tersebut umumnya adalah anjing.

Anjing-anjing dengan berbagai jenis itu dikerangkeng di dalam kandang berukuran 2 X 2 meter yang cukup bersih. Anjing yang berukuran kecil diletakkan satu kandang dengan jumlah 4 sampai 7 ekor. Sementara anjing yang berukuran besar dikandangkan sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hewan yang terkenal dekat dengan manusia itu juga terlihat sangat patuh menuruti perintah penjaganya. Menurut Kasie Pelayanan Kesehatan Hewan Naniek S, anjing-anjing yang dibawa ke balai adalah anjing liar yang berada di tengah-tengah lingkungan warga.

Jika ada warga yang terganggu dan melapor, petugas langsung menangkap anjing tersebut. Sesuai peraturan Perda DKI Jakarta No 11 Tahun 1965, jika dalam 3 hari tidak ada yang mengklaim memiliki anjing itu, maka balai berhak merawatnya.

Namun, ada pula anjing yang diserahkan secara sukarela oleh pemiliknya karena tidak mampu memelihara. "Kalau yang liarkan pasti kotor dan bulukan, kalau yang dikasih pemiliknya baru kondisinya lebih bersih," ucap perempuan berkerudung ini kepada detikcom.

Dikatakan Naniek, ditampungnya anjing-anjing liar itu juga untuk mencegah mewabahnya penyakit rabies di Jakarta. Sejak 6 Oktober 2004, wilayah DKI Jakarta telah dinyatakan bebas rabies.

Pihak balai membolehkan masyarakat pecinta hewan untuk mengadopsi anjing-anjing tersebut. Semua jenis dan ukuran anjing dipatok retribusi yang sama, yakni Rp 50 ribu per ekor.

Namun, menurut Naniek, tidak setiap hari ada yang datang untuk mengadopsi hewan-hewan yang dirawatnya. "Ya, kadang ada, kadang enggak," tuturnya. (lia/irw)


Berita Terkait