Keluarga Baruno yang diwakili kuasa hukumnya, Badruzzaman, tiba di kantor Kompolnas di Kompleks Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, sekitar pukul 10.50 WIB, Senin (1/3/2010).
"Kami melaporkan sikap Poltabes Solo yang diskriminatif. Kita membawa berbagai barang bukti, seperti kronologi hilangnya Pak Baruno dan sebagainya," ujar Badruzzaman kepada detikcom.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan menurut Kapoltabes Solo, Kombes Pol Joko Irwanto, Baruno berangkat ke Jakarta dalam rangka tugas kantor membawa berkas-berkas untuk pengajuan mengambil uang berupa dollar AS. Saat pulang ke Solo, Baruno membawa uang dollar AS senilai Rp 1,3 miliar.
"Pada saat kepulangannya ke Solo itulah Saudara Baruno ini hilang. Kita belum bisa memastikan apakah dia memang bermaksud melarikan diri atau dia tersesat," ujar Joko.
Sementara sumber di Bank Mutiara Solo mengatakan, sebenarnya pada hari yang sama tugas kantor yang dijalankan Baruno telah selesai. Jumat sore Baruno telah diantar dari kantor pusat Bank Mutiara di Senayan hingga Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng.
"Tapi memang tidak diketahui secara pasti apakah saat itu Mas Baruno sudah naik pesawat menuju Solo atau ada sesuatu yang menimpa dirinya selama berada di bandara maupun ada peristiwa lain yang menyebabkan dia tidak diketahui keberadaannya hingga sekarang," ujar sumber tersebut.
Dikatakan dia, memang sempat terdengar kabar bahwa Baruno saat ini masih berada di Jakarta. Kabar tersebut mengatakan Baruno berada di rumah seorang kenalan di kawasan Bukit Duri, Jakarta Selatan. "Tapi saya tidak bisa memastikan kebenaran kabar itu," ujar sumber tersebut.
Pihak keluarga sudah berusaha melaporkan hilangnya Baruno ke Poltabes Solo. Namun laporan tersebut ditolak dengan alasan locus delicti (lokasi kejadian perkara) tidak berada di Solo. Tapi anehnya, Poltabes Solo menerima laporan Bank Mutiara soal dugaan penggelapan Rp 1,3 miliar yang dilakukan Baruno.
(djo/nrl)











































