Didampingi staf Konsuler dan Ketenagakerjaan Konjen RI Kinabalu, Arnanto, Rina akhirnya bertemu kedua orangtuanya Abidin (45) dan Masrah Hidayati (43) di kantor Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Kaltim, pada pukul 17.00 WITA.
Pertemuan Rina yang tercatat sebagai siswi sebuah SMK di Samarinda dengan kedua orangtuanya itu diwarnai isak tangis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masrah Hidayati menceritakan, keberadaan Rina di Malaysia benar-benar di luar dugaannya. Rina tidak pulang ke rumah sejak 4 Januari 2010 lalu. Berselang sembilan hari kemudian, Masrah menerima telepon dari temannya yang mengatakan Rina akan berangkat ke Malaysia.
"Saya pastikan kabar itu dengan menelepon Rina, tapi tidak ada jawaban," kata Masrah kepada wartawan.
Dilanda kekhawatiran, Masrah pun melaporkan kabar tersebut ke Markas Polda Kaltim di Balikpapan, dengan maksud meminta kepolisian untuk melakukan upaya pemblokiran jalan menuju Malaysia.
"Supaya keberangkatan anak saya itu bisa dicegah," ujar Masrah.
Namun berselang beberapa hari, Masrah pun kembali menerima telepon dari seseorang bernama Nurdin. Kala itu, Nurdin memberitahukan Rina berada di Sandakan, Sabah, Malaysia, setelah dibawa saudaranya bernama Andika.
"Jadi Nurdin itu mengaku saudara dari Andika yang membawa anak saya ke Malaysia," imbuh Masrah.
Lantaran menyangkut lintas batas kedua negara, Masrah pun memutuskan untuk mendatangi kantor Gubernur Kaltim di Jl Gadjah Mada, Samarinda, untuk meminta pertolongan. Laporan itu kemudian diteruskan ke kantor P2TP2A.
"Pemprov Kaltim melalui Pak Wakil Gubernur (Farid Wadjdy) meminta KBRI Malaysia di Jakarta, untuk melacak keberadaan anak saya dengan membawa identitas anak saya dan tempat terakhir di Sandakan, Sabah," terang Masrah.
Konjen RI di Kinabalu, Malaysia, pun bergegas melakukan pencarian sesuai dengan permintaan dan data identitas Rina yang diberikan orangtuanya. Akhirnya, Rina ditemukan di ladang di area perkebunan kelapa sawit Sapi Plantation Sendirian Berhad (Sdn Bhd), Sandakan, Sabah, Malaysia.
"Saat kami temukan, Rina sedang asik duduk di areal ladang dekat areal kelapa sawit itu," kata staf Konsuler dan Ketenagakerjaan Konjen RI di Kinabalu, Arnanto, kepada wartawan di tempat yang sama.
Usai menemukan Rina, Konjen pun membawanya ke kantor Konjen pada tanggal 20 Februari 2010 dan kemudian dibawa kembali ke Kabupaten Nunukan, Kaltim, menggunakan transportasi kapal laut hingga akhirnya diterbangkan ke Balikpapan, melalui Bandara Sepinggan. Sesampainya di Samarinda, Rina dibawa menggunakan transportasi darat.
"Kasus seperti Rina ini, terbilang jarang kami tangani," ujar Arnanto.
Kendati berhasil mengamankan Rina, Arnanto mengaku belum bisa memastikan apakah Rina termasuk korban trafficking atau bukan, mengingat Rina masih berusia di bawah umur. Keputusan itu, katanya, merupakan wewenang dari aparat.
"Karena kami terima laporannya, Rina diculik. Kita sebagai kepanjangan tangan pemerintah RI, hanya bisa membantu mencari keberadaan Rina sesuai informasi alamatnya di Sandakan," tukas Arnanto.
Dikabarkan, Rina juga telah menikah dengan Andika, yang membawanya ke Sandakan, Sabah. Menanggapi itu, Arnanto mengaku belum bisa memastikannya.
"Soal kabar menikah tidaknya, kami di Konjen belum tahu pasti," imbuh Arnanto.
Ditanya mengenai keberadaan Andika, apakah juga diamankan pihak Konjen atau ditangkap pihak kepolisian Malaysia, Arnanto menyatakan Andika belum mendapat tindakan hukum apapun.
"Kalau soal ditahan, itu tidak boleh. Karena dia (Andika) adalah warga negara Malaysia dan tidak dilaporkan sebagai pelaku kriminal. Semua tergantung dari kepolisian RI, apakah juga meminta untuk diamankan atau tidak.Tapi kita sudah pantau keberadaannya di Sandakan," pungkas Arnanto.
(lrn/lrn)










































