Tak Dipedulikan, Korban Terorisme Kecewa dengan Pemerintah

Tak Dipedulikan, Korban Terorisme Kecewa dengan Pemerintah

- detikNews
Sabtu, 27 Feb 2010 13:36 WIB
Tak Dipedulikan, Korban Terorisme Kecewa dengan Pemerintah
Jakarta - Para korban ledakan bom di Indonesia merasa kecewa dengan pemerintah. Mereka menilai pemerintah Indonesia tak mempedulikan nasib mereka usai peristiwa ledakan bom yang menewaskan sanak keluarga mereka.

"Yang paling peduli kepada kita hanya keluarga dan sesama korban," kata salah satu korban selamat peledakan Bom Marriot I, Febby Firmansyah dalam acara diskusi kerja bertajuk "Mencegah Terorisme dengan Membangun dan Rasa Kemanusiaan" di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu (27/2/2010).

Febby sangat kecewa dengan pemerintah yang kurang memberi perhatian kepada para korban peledakan bom di berbagai tempat di Indonesia.

"Sebagai warga negara saya kecewa. Pemerintah hanya janji-janji saja. Setelah keluar rumah sakit kita dianggap sembuh. Tapi apakah mereka melihat kalau mental saya terganggu?" ungkap salah satu staf diperusahaan minyak dan gas diΒ  kawasan Mega Kuningan ini.

Febby yang mengalami luka bakar 42 persen dibagian tubuhnya ini berharap agar pemerintah dapat belajar dari peristiwa tersebut. Bantuan pasca peristiwa dirasa sangat perlu bagi para korban.

"Tidak selalu soal materi. Tapi program kesehatan, pengobatan, fasilitas dimana kita berobat dimudahkan. Ada pendidikan untuk anak korban yang memiliki keterbatasan
biaya dan sebagainya," tuturnya.

Senasib dengan Febby, Hayati Eka Laksmi juga mengalami hal yang sama. Hayati mengalami trauma yang luar biasa pasca suaminya tewas dalam peristiwa peledakan bom
Kedubes Australia. Hayati harus menanggung kehidupan dua anaknya.

"2 anak saya masih kecil saat itu, mereka bertanya dimana ayahnya sebelum ditemukan di hari ketujuh ditemukan utuh tapi tanpa bentuk," tuturnya sambil sesegukan.

Menurut Hayati, yang lebih berat lagi bukan saat itu saja. Tapi pada saat anak-anaknya bertanya mengapa mereka (teroris) mengebom, siapa pelakunya, mengapa agamanya mengizinkan untuk mengebom

"Sedih, jengkel, putus asa, semua jadi satu karena saya tidak bekerja. Sudah melamar tapi tidak satupun yang menerima. Sulit untuk bangkit," kata dia yang saat ini menjadi guru honorer SMP swasta di Denpasar Bali.

Rangkaian acara diskusi ini diselanggarakan oleh Asosiasi Korban Bom Terorisme di Indonesia (ASKOBI). ASKOBI memiliki semangat, visi dan misi yaitu bersatu menggalang kekuatan perdamaian di dalam dan luar negeri.

Serta saling mendukung sesama korban guna mensejahterakan dan memberdayakan diri agar memiliki kualitas kehidupan yang
lebih baik.

(mpr/gus)


Berita Terkait