"Kita jalan terus. Masih banyak tugas untuk merampungkan ini," kata Yati, pengelola pembangunan anjungan, saat ditemui di kantornya, Kamis (25/2/2010).
Yati juga mengaku belum berencana untuk menemui pihak yang memprotes anjungan seluas 4,5 hektar tersebut. Pihaknya akan fokus untuk mengumpulkan donasi demi realisasi anjungan Tionghoa yang direncanakan sejak tahun 2003 tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Parkir nanti 1 hektar, jalanan itu 1 hektar. Bangunan sendiri cuman berapa ribu meter sisanya resapan air," jelas Yati.
Menurut dia, anjungan tersebut nantinya akan memiliki 5 pintu masuk. Sementara untuk pembangunan jalan tersebut diperkirakan memakan lahan seluas 2 hektar.
"Anjungan lain seperti museum Telkom juga luasnya 19 hektar," tambahnya.
Asmen Humas TMII saat dikonfirmasi hal yang sama memang mengaku ada perbedaan jumlah lahan antara anjungan suku asli Indonesia dan anjungan Tionghoa. Namun demikian, ia berharap masyarakat tidak mempersoalkan itu sebab keberadaan etnis Tionghoa juga perlu diakomodir di TMII.
"Memang suku lain dari 2-3,5 hektar. Kita pastikan akan tetap mengawasi pembangunan anjungan mereka, jangan sampai beda dari kesepakatan awal," jelasnya.
Sebelumnya, PARTI mengirim surat pada pengelola TMII agar menunda pembangunan anjungan Tionghoa. Luas lahan dan jenis bangunan yang terlalu megah dikhawatirkan menimbulkan konflik sosial dengan etnis lokal yang lebih dulu hadir di TMII.
(mad/iy)











































