Sebut saja namanya Jaka, adalah suplier alat keselamatan kerja. Pada Februari 2009, dia berkenalan dengan Selly di sebuah cafe di Kemang. Selly mengaku bernama Rasellya Rahban Taher, karyawan Gran Mahakam. Singkat cerita mereka berteman.
Dalam perkembangannya, Selly mulai bercerita punya orang tua yang bercerai. Menurut pengakuan Selly, ayahnya pejabat Pertamina yang suka menyiksanya dan memiliki preman-preman dari Badan Narkotika Nasional (BNN). Ibunya yang menjadi manajer bank BCA di Bandung harus menyembunyikannya.
"Baru lah dia mulai menawarkan bisnis pulsa murah. Saya tertarik karena untungnya banyak. Saya setor Rp 70 juta, dua teman saya ikutan. Total lebih dari Rp 100 juta," kata Jaka kepada detikcom, Rabu (17/2/2010).
Setelah uang di tangan Selly, baru Selly mulai berkelit. Dia berkisah, para preman BNN kiriman ayahnya datang mengambil semua. Selly pun menghubungkan Jaka dengan perempuan yang mengaku ibunda Selly.
"Uang kamu gampang nanti balik lagi. Saya lagi di Singapura nih. Bapaknya memang kejam, suka mukul," kata Jaka menirukan ibunda Selly.
Jaka dan kawan-kawan pun mencarikan Selly kost di Jl Kelapa Dua, Depok dekat Kampus Gunadarma. Tokoh ketiga pun dikenalkan, pria bernama Yanto yang menjadi orang kepercayaan ibunda Selly.
"Ibunya bilang ada uang Rp 500 juta di Pak Yanto. Itu uang kita bertiga untuk dikembalikan. Sisanya untuk biaya hidup Selly," kata Jaka.
Jaka semakin curiga, namun tetap memegang janji Selly. Dia lalu membuat janji dengan Yanto awal Mei 2009 di RS Mitra Depok. Namun Yanto meminta Selly tidak ikut agar tidak diburu preman BNN lagi. Selly pun ditinggal di kost, Jaka berangkat sendiri ke RS Mitra Depok.
"Saya tunggu orangnya nggak muncul bilangnya sudah dekat. Tiba-tiba Selly juga mengaku diserbu preman BNN di kost-nya dan dibawa paksa. Terus semua telepon mereka nggak bisa dihubungi," papar Jaka.
Cukup lama Jaka berburu Selly dan berkomunikasi dengan para karyawan Kompas yang juga menjadi korban. Jaka ikut datang ke Polsek Tanah Abang pada 7 Januari 2010 saat Selly digelandang ke sana.
"Ada tuh yang menjadi bapaknya. Tapi bapaknya biasa aja tuh tampangnya, bukan kaya tukang pukul anak. Malah cuek begitu," jelas Jaka.
Jaka juga heran kenapa Polsek Tanah Abang tidak membuat laporan dari korban malahan menyarankan membuat surat perjanjian. Namun Jaka tidak mau, dia memaksa Selly membuat kwitansi sebagai barang bukti.
"Saya nggak mau ini jadi perdata, ini pidana. Saya masih simpan kwitansinya," kata Jaka.
Jaka mempertimbangkan permintaan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Boy Rafli Amar yang meminta korban melapor ke Polda Metro Jaya. Dia menduga Selly dan keluarganya bersekongkol.
"Saya nggak bilang yakin ya, tapi dari pengalaman saya semua keluarganya dilibatkan. Ada ibunya dan ayahnya," pungkas Jaka.
(fay/iy)











































