"Fakta berbicara dari 140 juta hektar hutan di negeri ini, 60 juta di antaranya sudah rusak,β kata Ketua Umum Asosiasi Hutan Tanaman Rakyat Mandiri Indonesia (AHTRMI) Basyaruddin Siregar dalam diskusi bertajuk "Suksesi Program Hutan Tanaman Rakyat" di Kantor Direktorat Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Jakarta, Selasa (16/2/2010).
Basyaruddin menambahkan, kondisi ini harus menjadi konsern atau perhatian semua pihak. Jika tidak, bukan sesuatu yang mustahil suatu saat Indonesia tidak akan lagi memiliki hutan.
Terkait hal itu pula, sambung Basyaruddin, AHTRMI telah menyiapkan berbagai program kerja. Salah satunya menyediakan 50 hektar lahan untuk penghijauan di setiap provinsi di seluruh Indonesia.
Menurut Basyaruddin, lahan tersebut akan ditanami berbagai jenis pohon. Termasuk jenis pohon yang kayunya bisa dipanen dalam umur lima sampai 20 tahun.
"Ada pohon sengon, jati, yang di tengahnya ditanami tanaman tumpang sari," kata Basyaruddin.
Basyaruddin menambahkan, dalam waktu dekat juga akan dilakukan penanaman 100 ribu tanaman mangrove di Kepulauan Riau. Dilanjutkan dengan menanam mangrove dan tanaman lain di DI Yogyakarta, sebagai bagian dari percontohan Forestry in the Tourism.
AHTRMI juga telah melantik 100 orang rimbawan dan rimbawati di tiap-tiap provinsi. Mereka siap diterjunkan untuk menghijaukan kembali hutan yang rusak di Indonesia.
"Para rimbawan dan rimbawati yang mayoritas muda usia ini akan terlibat aktif bersama masyarakat untuk membantu program pemerintah melakukan penghijauan hutan," tandas Basyaruddin.
(djo/djo)











































