Istana: Tak Ada Sangkut Paut dengan Presiden

Penyerangan Markas Bendera

Istana: Tak Ada Sangkut Paut dengan Presiden

- detikNews
Senin, 15 Feb 2010 19:32 WIB
Jakarta - Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) mencurigai tersangka penyerangan markasnya, MS, terkait dengan kelompok politik tertentu yang dekat dengan kekuasaan. Istana menegaskan, penyerangan markas Bendera tak ada sangkut pautnya dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Polisi sudah memberikan klarifikasi dengan jelas. Kronologis acara sampai kesimpulan sementara. Bahwa itu tak ada sangkut paut dengan pemerintah, apalagi dengan Presiden," ujar juru bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha.

Hal itu dikatakan Julian di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (15/2/2010). Namun Julian tak menjelaskan siapa saja yang ikut dalam rapat internal itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kalau ada yang mengatakan bahwa penyerang markas Bendera itu berafiliasi dengan kelompok yang dekat dengan kekuasaan, Julian mengatakan hal itu mengada-ada.

"Tidak ada pembuktiannya kan? Bagaimana cara membuktikan hal itu. Tidak ada
hubungan langsung dengan pihak Istana. Tidak bisa dibuktikan, itu terlalu mengada-ada," tegas Julian.

Istana pun, imbuhnya, merujuk pada pemeriksaan dan keterangan resmi Bareskrim Mabes Polri. Bahwa kasus tersebut murni kriminal.

"Bahwa itu memang tidak ada kaitannya dengan politik, apalagi dengan Presiden. Itu murni dari, mungkin konflik internal mereka, atau tak ada hubungannya dengan pemerintah," katanya.

Sebelumnya salah satu aktivis Bendera,Β  Ferdi Semaun menuding, salah satu pelaku berinisial MS terkait kelompok politik tertentu. MS dikenal sebagai sukarelawan jaringan politik yang dekat dengan kekuasaan.

"MS itu sukarelawan Jaringan Nusantara (JN). Meski sama-sama alumni UKI tapi
aksi politik kan boleh beda," tandasnya.

JN merupakan organisasi masyarakat yang saat musim kampanye Pilpres 2009 lalu mendukung SBY. Namun JN membantah pernyataan Fredi tersebut.

"Nggak mungkin (terlibat). Terlalu bodoh kalau Jaringan Nasional melakukan tindakan anarkis," kata Wakil Ketua Jaringan Nusantara M Fakhrudin kepada detikcom melalui telepon, Minggu (14/2/2010).

(nwk/gah)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads