Kisah ini hanya sebagian kecil dari banyak cerita sama di pemukiman padat dan kumuh tersebut di pinggiran Jakarta. Alasan untuk membenarkan tindakannya selalu dengan motif ekonomi dengan latar belakang kemiskinan.
Salah satunya adalah suami-istri, Taman (38)-Siti Aminah (34). Pasangan yang sehari-hari menghidupi diri dengan menjadi pengamen ini pernah 'menjual' 2 orang anaknya dengan alasan untuk membayar biaya persalinan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu kondisi keluarganya sangat membutuhkan biaya untuk hidup di samping biaya untuk persiapan bagi Aminah yang tengah mengandung anak ke-2. "Akhirnya ada orang yang punya uang. Dari pada hidup bersama saya yang susah. Dia memberikan uang Rp 500 ribu untuk biaya persalinan anak saya," kenang Taman.
Beberapa tahun setelah menjual anak keduanya, Taman kembali menjual anak keempatnya pada tahun 2001. "Saya belum sempat memberikan nama, karena saat istri saya melahirkan, langsung diambil oleh orang lewat perantara saudara jauh saya," jelasnya.
Biaya persalinan yang diberikan kepada Aminah oleh pihak yang mengambil anaknya tersebut, sebesar Rp 1 juta. "Kadangkala kami rindu juga dengan mereka. Kami tidak pernah tahu keberadaan keduanya sekarang ini," tuturnya.
Sementara itu, Ketua Forum Bersama Penggugat Kampung Beting, Ricardo Hutahaean menyebutkan, berdasarkan data yang diperolehnya, sejak tahun 1990 hingga 2010 sedikitnya ada 25 kasus penjualan anak di Kampung Beting.
"Motifnya kemiskinan, mereka tidak punya biaya persalinan," pungkasnya.
(fiq/gah)











































