Buru Penembak Gelap, Kodam Pattimura Bentuk Tim Khusus

Buru Penembak Gelap, Kodam Pattimura Bentuk Tim Khusus

- detikNews
Jumat, 30 Apr 2004 21:06 WIB
Jakarta - Menindak lanjuti intruksi Panglima TNI Jenderal TNI Endriartono Sutarto, Kodam Pattimura telah membentuk Tim Khusus untuk memburu para penembak gelap. Tim Khusus ini akan berburu di lima wilayah yang dianggap rawan di Ambon."Kodam Pattimura telah menugaskan satuan untuk memburu para penembak gelap. Satuan ini merupakan gabungan intel dan personel taktis yang bertugas di bawah komando kendali (Kodal) Polda Maluku," jelas Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Mayjen TNI Sjafrie Syamsuddin kepada wartawan di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Jum'at (30/4/2004). Upaya perburuan terhadap para penembak gelap ini akan difokuskan di lima daerah rawan konflik yakni Batu Merah, Talake (Tanah Lapang Kecil), Tugu Proklamasi, Perigi Lima, dan Kuda Mati. Selain membentuk Tim Khusus untuk di dalam kota Ambon, untuk di luar kota Ambon sendiri, Kodam Pattimura akan melakukan pendeteksian dini agar masyarakat tidak terpancing oleh provokasi ke arah sara.Panglima Kodam (Pangdam) Pattimura Mayjen TNI Syafruddin Summah menugaskan Tim Khusus ini untuk memburu para penembak gelap yang memiliki senjata secara ilegal. Menurut Sjafrie, kemungkinan senjata-senjata yang digunakan para penembak gelap bukan senjata rakitan atau senjata organik TNI.Menurutnya, senjata yang dimiliki penembak gelap merupakan buatan pabrik yang khusus membuat senjata bagi angkatan bersenjata. Pabrik itu menurutnya, kemungkinan di buat di AS, Rusia, Perancis, atau Pindad (Indonesia). Tetapi, para penembak gelap mendapatkannya dari selundupan atau senjata yang hilang.Mabes TNI sendiri menduga, sebagian senjata yang digunakan adalah hasil pencurian di Gudang Asrama Brimob Tantui pada 21 Juni 2000. Saat itu terjadi pengrusakan, pembakaran dan pembobolan gudang senjata, akibatnya 893 pucuk senjata hilang. Hingga saat ini, masih terdapat 300an senjata yang belum ditemukan. "Itu sekarang tugas TNI dan Polri untuk mencari kembali sampai tuntas. Panglima TNI sendiri kemarin memerintahkan untuk mencari atau menemukannya lagi," tegas Sjafrie.Soal siapa para penembak gelap ini, menurut Sjafrie, dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan operasional. Tetapi istilah sniper yang digunakan saat ini juga cukup membingungkan. Pasalnya, bila sniper (penembak jitu) biasanya melakukan penembakan dengan target yang jelas, sedangkan penembak gelap sasaran atau targetnya sembarangan.Sjafrie menambahkan bahwa apa yang terjadi di Ambon harus ditangani secara serius oleh pemerintah melalui keputusan politik dan tidak menyerahkan kepada masyarakat. Sebab, konflik ini bukan konflik sara, tapi dipicu keberadaan Republik Maluku Selatan (RMS). (zal/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads