9.000 Jiwa Kembali Mengungsi

Akibat Rusuh Ambon

9.000 Jiwa Kembali Mengungsi

- detikNews
Jumat, 30 Apr 2004 14:17 WIB
Ambon - Gelombang pengungsi akibat konflik Ambon yang meletus 25 April 2004 kembali terjadi. Tercatat 9.000 jiwa pengungsi hingga kini telah menempati lokasi-lokasi pengungsian.Hal ini disampaikan Kepala Dinas Sosial Provinsi Maluku, Drs Abdul Rahim Uluputty kepada detikcom, Jumat (30/4/2004) di pelataran Masjid Al-Fatah, Ambon.Menurutnya, lokasi pengungsian yang saat ini ditempati pengungsi antara lain, Desa Passo, Lateri, Latta, THR Waihaong, Kompleks Lantamal Halong, Wisma Atlit Karang Panjang dan Kompleks Masjid Al-Fatah. Namun, angka ini tidak termasuk pengungsi pasca konflik 19 Januari 1999 lalu."Untuk sementara yang kami bantu pengungsi yang mengungsi pada 25 April 2004. Sementara pengungsi pasca 19 Januari kita sudah tidak didistribusikan bantuan," ujarnya. Bantuan yang akan didistribusikany yaitu beras sebanyak 350 ton dan sudah didistribusi sebesar 18 ton dan dilakukan sejak Selasa (27/4) lalu."Kami lakukan secara bertahap. Apalagi kondisi tak menentu seperti ini. Makanya kami meminta bantuan pihak TNI/Polri dalam pendistribusiannya," ungkapnya.Terkait kondisi pengungsi, mantan Kabiro Humas Setda Provinsi Maluku ini sudah melaporkan hal ini kepada Dirjen Sosial di Jakarta untuk selanjutnya dialokasikan bantuan dari pemerintah pusat. "Yang pasti, hingga saat ini belum ada bantuan yang turun dari pemerintah pusat sejak 25 April lalu," kata Uluputty.Sementara, pantauan detikcom di lokasi pengungsian THR Waihaong dan Kompleks Al-Fatah, kondisi pengungsi sangat memprihatinkan.Di lain pihak, Gubernur Maluku Alberth Karel Ralahalu yang dihubungi via telepon genggam menyatakan, akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait masalah pengungsi pasca 25 April itu."Kami akan lakukan koordinasi dengan pemerintah pusat guna memperhatikan kondisi pengungsi. Langkah antisipasi awal kami yakni menyalurkan apa yang ada lebih dulu kepada para pengungsi sebagaimana yang telah dilaksanakan oleh dinas sosial," paparnya. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads