Agus Condro: Kenapa PDIP Panik Ingin Bela Dudhie

Agus Condro: Kenapa PDIP Panik Ingin Bela Dudhie

- detikNews
Jumat, 12 Feb 2010 11:25 WIB
Agus Condro: Kenapa PDIP Panik Ingin Bela Dudhie
Jakarta - Agus Condro buka suara soal penahanan mantan koleganya di PDIP Dudhie Makmun Murod. Agus merasa aneh PDIP terkesan ingin membela mati-matian Dudhie. Ada apa?

"Dahulu waktu saya membuka kasus ini, saya malah dipecat. Mereka panik dan hendak menutup-nutupi kasus ini, saya dianggap mengigau dan membual. Sekarang buktinya Dudhie ditahan, ini membuka mata publik," terang Agus saat dihubungi detikcom via telepon, Jumat (12/2/2010).

Saat membuka kasus suap terkait pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Miranda S Goeltom awal 2009 itu, Agus mengaku tidak bermaksud memenjarakan teman dan membuka borok partai. Dia hanya memberikan penjelasan kepada penyidik, apa yang pernah dialaminya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekarang dengan ditahannya Dudhie, ini membuktikan saya yang benar dan mereka yang bohong," terangnya.

Agus diberi sanksi pemecatan dan ditarik dari DPR oleh PDIP. Pria asal Batang, Jawa Tengah ini kepada penyidik KPK mengungkapkan dia menerima uang senilai Rp 500 juta dalam bentuk travelers cheque. Uang diberikan sebagai jasa terkait pemilihan Deputi Gubernur Senior BI.

"Saya diberhentikan begitu menyampaikan itu. Ini tidak adil, tapi Dudhie jadi tersangka dibelain dan diberikan pengacara. Ini partai hipokrit, partai yang seolah-olah memberantas korupsi tapi tersangka korupsi dibelain," terangnya.

Dia menduga alasan memberikan pembela, karena PDIP khawatir Dudhie akan membuka semuanya. "Dudhie berkata jujur. Dia sekadar menjalankan perintah Panda dan menyerahkannya pada Emir. Memang yang dialami seperti itu," tutupnya.

Sebelumnya Emir Moeis yang juga Ketua Komisi XI DPR membantah bila dirinya ikut membagi-bagikan uang, terkait terpilihnya Miranda S Goeltom pada Juli 2004 lalu. Dia mengaku tidak tahu menahu perihal amplop berisi uang.

Sedang Panda Nababan tidak bisa dimintai komentar. Telepon selulernya mati. Namun keterangan resmi datang dari Ketua Fraksi PDIP Tjahjo Kumolo, dia menegaskan menyerahkan sepenuhnya kasus ini ke KPK. (ndr/iy)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads