"Saya siap jadi teroris dan membuat kekacauan di negara ini ketika hukum tak mampu ditegakkan. Saya ingin ketua pengadilan jangan diintervensi dari luar. Saya sudah menunggu 5 hari di sini!" teriak Andi di bawah tiang bendera PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Jaksel, Kamis (11/2/2010).
Menurut pendukung Nasrudin Zulkarnaen ini, senjata yang dibawanya merupakan senjata pusaka leluhur yang mempunyai kekuatan magis. Kini senjata tradisional tersebut terbalut kain putih dan kain hitam.
"Ini bukan senjata tajam. Kalau senjata tajam, mana mungkin bisa lewat Bandara Hasanuddin," tambah pria berjenggot yang memakai peci putih ini.
Dalam orasinya, dia meminta hakim memberikan hukuman mati kepada Antasari. Aksi ini menyedot perhatian pengunjung dan aparat. Tapi aksi ini tidak dicegah oleh pihak kepolisian.
"Jika ini dibebaskan, maka pembunuhuan berencana bisa terjadi lagi. Kalau kayak gitu saya juga mau jadi pembunuh bayaran," sesumbarnya.
(asp/nrl)











































