"Setahu saja jarang sih yang sampai kepada pemecatan. Lebih sering penurunan pangkat atau penundaan kenaikan pangkat. Yang terakhir kalau memang dosa tidak berampun, ya pemecatan," kata Sofian kepada detikcom, Rabu (10/2/2010).
Setiap kampus punya penyikapan yang berbeda soal plagiarisme. Sehingga kebijakannya pun berbeda-beda saat menyikapi plagiarisme.
"Mungkin pimpinan universitas punya pertimbangan sendiri, misalnya ingin jaga prestasi, image. Tapi pemecatan menurut saya sedikit lebih keras," ujarnya sambil sedikit tertawa.
Saat menjadi rektor UGM, Sofian mengaku ada kasus plagiarisme di kampus yang dia pimpin itu. Namun sanksinya cuma penurunan pangkat dan tidak mengarah ke sanksi pemecatan.
"Yang sudah kena sanksi bisa diproses (menjadi doktor atau guru besar) kembali. Tapi tidak ada standar bakunya, masing-masing universitas punya standar berbeda," imbuhnya.
Sofian sedikit kecewa dengan pemecatan terhadap Profesor Banyu. "Dia kan masih muda. Implikasi dari pemecatan itu akan banyak buntutnya," pungkas pakar administrasi publik ini menutup pembicaraan.
(anw/nrl)











































