"Mogok panser tersebut menunjukkan buatan negara luar juga ternyata tidak menjamin mutu dan servisnya juga sering dibuat tergantung kepada negara produsen," ujar anggota Komisi I (Pertahanan) DPR dari FPKS, Al Muzammil Yusuf, melalui pesan singkat kepada detikcom, Rabu (10/2/2010). Panser yang mogok disebut-sebut merupakan hibah dari Korea Selatan dan telah berusia cukup uzur.
Menurut Muzammil, para sarjana Indonesia telah mampu membuat peralatan tempur tersebut dan tinggal membutuhkan dukungan dari pemerintah. Apabila hal ini dilakukan secara konsisten akan berdampak pada peningkatan mutu industri strategis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Muzammil menambahkan, Komisi I DPR sangat mendukung upaya pengembangan BUMNIS. Namun ada kendala yang selama ini dihadapi terkait hal tersebut.
"Praktek broker alutsista buatan luar selama ini potensial menghambat kebijakan pro pengembangan BUMNIS," jelasnya.
"Pembelian alutsista dari luar negeri hanya ditolerir untuk alutsista yang BUMNIS kita belum bisa membuatnya," pungkasnya.
(ddt/nrl)











































