"Tadi pagi saya sudah menerima informasi dari yayasan terkait pencopotan gelar profesor pada Banyu Perwita. Namun kapan pelaksanaannya, saya masih belum tahu," kata Rektor Unpar Dr Cecilia Lauw kepada sejumlah wartawan di Kampus Unpar, Jalan Ciumbeuleuit, Bandung, Selasa (9/2/2010).
Menurut Cecilia, Banyu dari dulu memang terkenal sebagai salah satu dosen yang rajin menulis. "Mungkin karena rajin menulis itu menjadi salah satu pertimbangan mengapa beliau mendapat gelar profesor," kata Cecilia.
Profesor Termuda di Indonesia
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyu dikukuhkan oleh Unpar sebagai guru besar/profesor pada 12 Januari 2008. Saat pengukuhannya, Banyu menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul 'Dinamika Keamanan Dalam Hubungan Internasional dan Implikasinya Bagi Indonesia.'
Banyu merupakan pria kelahiran Jakarta 6 Februari 1967. Banyu menyelesaikan pendidikan dasar, menengah pertama dan menengah atas di Lembaga Pendidikan Katolik Pangudi Luhur, Jakarta. Banyu kemudian menyelesaikan kuliah di Unpar pada 1990 di jurusan HI.
Pada tahun 1992, ia memperoleh beasiswa British Chevening Scholarship dari Pemerintah Inggris untuk meneruskan program pascasarjana dan memperoleh MA in International Relations and Strategic Studies dari Lancaster University-Inggris pada November 1994. Dan pada 2002, ia menggondol doktor dari Flinders University, Adelaide-Australia.
(asy/nrl)











































