Peresmian perpustakaan keliling itu berlangsung di kantor Penerbit PT Galang Press, Jl Mawar Tengah, Baciro, Yogyakarta, Selasa (9/2/2010).
Bersamaan dengan acara itu diberikan sumbangan buku kepada warga masyarakat sekitar Kota Yogyakarta dari beberapa penerbit. Sebanyak 700-an judul buku senilai Rp 16 juta itu merupakan sumbangan dari 25 penerbit di Yogyakarta.
Mobil perpustakaan dengan gambar Gus Dur itu akan melayani warga Yogyakarta dan sekitarnya yang membutuhkan pelayanan buku bacaan secara gratis. Sebanyak tiga buah mobil akan berkeliling Yogyakarta dan sekitarnya untuk melayani permintaan masyarakat. Program ini untuk meningkatkan minat baca masyarakat.
Bersamaan pereemian perpustaakan Guru Bangsa, diluncurkan pula buku berjudul Gus Gerr, Bapak Pluralisme dan Guru Bangsa karya Maftuhah Hamid. Buku setebal 156 halaman yang diterbitkan Penerbit Pustaka Marwa itu bersamaan dengan peringatan 40 hari meninggalnya Gus Dur.
Buku itu di antaranya berisi mengenai rekam jejak sang guru bangsa, dari ulama ke pahlawan nasional, ideologi guru bangsa. Selanjutnya bapak pluralisme dan multikulturalisme serta selama jalan guru bangsa. Di bagian akhir juga terdapat bagian tertawa bersama Gus Dur yang berisi mengenai guyonan atau joke yang dilontarkan Gus Dur dalam berbagai kesempatan.
Dalam kesempatan itu, Gus Iim mengungkapkan pengalamannya bersama Gus Dur. Menurut Gus Iim, dirinya mendapat banyak pelajaran dari sang kakak. Di antaranya hak untuk mempercayai sebuah keyakinan sebagai hak utama.
"Waktu itu saya masih muda berumur sekitar 19 tahun. Gus Dur baru pulang mengembara dari Mesir, Irak, Jerman, Perancis dan Belanda. Saya diingatkan pentingnya persatuan Indonesia dan untuk rajin belajar yaitu membaca seperti ayat Quran yang turun pertama kali, bacalah" katanya.
Menurut dia, semua yang dikerjakan oleh Gus Dur merupakan contoh-contoh hidup yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa ini. Oleh karena itu, dia mementingkan sekali makna persatuan. "Dia sudah membayar seluruh kehidupannya untuk bangsa ini," ungkapnya.
Dia menambahkan keluarga besar Gus Dur tidak mempersoalkan Gus Dur diberi gelar pahlawan atau tidak. Sebab Indonesia saat ini sudah terlalu banyak mempunyai pahlawan.
"Saat ini hanya ada dua pikiran ekstrem, apakah masih perlu menambah pahlawan tapi kita tidak pernah menjalankan pikiran dan tindakan. Atau tidak kita tambah, tapi kita meniru dan menjalankan pemikiran-pemikiran mereka," pungkas dia.
(bgs/djo)











































