Tema yang diusung pun mengingatkan pada jalan hidup tokoh multidimensi tersebut. Pementasan digelar di Pendopo Taman Budaya Surakarta, Senin (8/2/2010) malam.
Selain didedikasikan untuk perjuangan demokrasi dan pluralitas yang selalu diemban Gus Dur, pementasan juga wujud terimakasih para seniman atas peran Gus Dur memajukan kesenian, terbukti almarhum pernah menjabat ketua Dewan Kesenian Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu juga ditampilkan seni santiswaran pimpinan Waluyo Sastrosukarno. Sedangkan puncak acara adalah pementasan bernuansa silang budaya dengan mengambil cerita 'Kuncung Semar'. Semar adalah tokoh pewayangan yang selama uini selalu diidentikkan dengan sosok Gus Dur.
'Kuncung Semar' diambil dari cerita pewayangan Jawa berjudul 'Semar Kuning'. Lakon ini mengisahkan Semar yang dipermalukan oleh Abimanyu, ksatria muda yang sejak kecil dibimbing dan dipelihara oleh Semar. Abimanyu tega melakukan itu atas hasutan Kresna karena Semar dinilai menghalangi-halangi keinginan Kresna.
Salah satu pemrakarsa acara, Slamet Gundono, mengatakan lakon tersebut dipilih bukan untuk menyindir personal seorang politisi. Pemilihan lakon itu karena dinilai cukup mewakili sosok Semar yang penyabar meskipun dilecehkan, dihina dan bahkan dikhianati oleh orang-orang terdekatnya.
"Kami melihat kesamaan Semar dan Gus Dur dalam hal ini. Gus Dur tidak pernah mendendam meskipun diperlakukan sejahat apapun, asal kerukunan dan persatuan bangsa ini tetap terjaga," ujar Gundono.
Terlibat dalam pementasan tersebut di antaranya adalah Slamet Gundono, Murtidjono, Suprapto Suryodarmo, Pamardi, Rusini, Ely Luthan, Eko Supriyanto, Wahyu Cunong, Dedek Wahyudi, Warseno Sleng dan ratusan seniman lainnya.
Tampak hadir bersama ratusan penonton adalah sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat. Diantaranya adalah pengasuh Ponpes Mahasiswa Al-Muayyad, KH Dian Nafi, dan pengasuh Ponpes Asrama Pendidikan Islam (API) Magelang, KHM Yusuf Chudlori.
Gus Dur di masa remaja memang pernah mengenyam pendidikan keagaam secara intensif sebagai santri di Ponpes API Magelang, dibawah asuhan KH Chudlori, ayahanda Yusuf Chudlori atau akrab disapa Gus Yus.
(mbr/nwk)











































