Perintah Ahmadinejad itu disampaikan dalam pidato dan ditujukan kepada Ali Akbar Salehi, yang memimpin badan energi atom negeri tersebut.
"Saya minta Dr Salehi untuk memulai pekerjaan produksi 20 persen bahan bakar," kata Ahmadinejad.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun tak lama kemudian Salehi mengumumkan, Iran akan mulai memproduksi 20 persen bahan bakar nuklir yang diperkaya pada Selasa, 9 Februari.
"Kami akan menyerahkan surat resmi kepada IAEA (Badan Energi Atom Internasional) yang memberi tahu bahwa kami akan mulai membuat 20 persen bahan bakar yang diperkaya mulai Selasa," kata Salehi pada saluran tevisi Iran berbahasa Arab, al Alam.
Pernyataan Ahmadinejad ini membingungkan sebab belum lama ini pemerintah Iran mengindikasikan kesediaannya untuk mengirimkan material nuklirnya ke luar negeri untuk diubah menjadi bahan bakar nuklir dan setelah itu dikirimkan kembali ke Iran.
Negara-negara Barat menginginkan agar proses pengayaan uranium itu berlangsung di luar Iran sehingga ketakutan akan program senjata nuklir bisa dihilangkan dan rencana nuklir Iran bisa lebih dimonitor.
Pemerintah AS dan Eropa menuding Iran diam-diam berupaya mengembangkan senjata nuklir lewat program nuklir yang dijalankannya. Namun pemerintah Iran bersikeras bahwa program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai, yakni sebagai pembangkit energi.
(ita/nrl)











































