"Adalah di suatu tempat," kata kuasa hukum George, Panca Nainggolan, saat dikonfirmasi lewat telepon, Senin (8/2/2010).
Saat dihubungi lewat telepon selulernya, George enggan mengangkat. Padahal, sebelum kasus ini bergulir, pria berbadan tambun tersebut cukup mudah dihubungi.
Usai insiden pemukulan pada 30 Desember 2009 lalu, George memang tidak pernah muncul lagi ke publik. Ia pernah diketahui berada di Yogyakarta untuk menenangkan diri. Namun, setelah itu, George bak hilang ditelan bumi.
Saat ditanyakan alasan George sembunyi, lagi-lagi Panca menolak memberikan keterangan. Hanya saja, Panca memastikan George sedang sibuk dan tidak bisa diganggu karena sedang mengerjakan proyek rahasia.
"Lagi nggak mau sibuk, nggak mau diganggu. Nanti ada surprise-lah, tunggu saja," lanjutnya.
Aktivis Petisi 28, Haris Rusly, saat dikonfirmasi hal yang sama juga ikut bungkam soal keberadaan George. Menurut dia, segala persoalan tentang rekannya itu sudah diurusi oleh pengacara.
"Saya nggak tahu. Soalnya sekarang sudah diserahkan semua pada pengacaranya," tegas pria yang menjadi panitia peluncuran buku George ini.
George ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian sejak 3 Februari lalu. Ia diduga melanggar pasal 335 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan dan pasal 352 KUHP tentang penganiayaan ringan.
Saat acara peluncuran buku 'Membongkar Gurita Cikeas' di Doekoen Coffee, Jakarta Selatan, George dan Ramadhan Pohan bersitegang hingga berujung pada insiden pemukulan dengan buku oleh George.
Ramadhan yang tidak terima, langsung melaporkan insiden tersebut ke Polda Metro Jaya. Kasus ini ditangani Polres Metro Jaksel. Ramadhan meminta agar George diberi sanksi tegas.
(mad/nrl)











































