Doa bersama itu dilakukan oleh lima pemimpin umat di antaranya Ketua Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hok An Kiong Muntilan, Budi Rahardjo (Tiong Hoa), KH Muhammad Thoyibi dari Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang (Islam), Romo Kirjito (Katolik) dan Pimpinan Wihara Mendhut Biksu Sri Pannyavaro Mahatera (Hindu).
Selain menggelar doa bersama, ratusan umat tersebut juga mendeklarasikan 'Deklarasi Merajut Merah Putih' di tengah-tengah berlangsungnya acara doa bersama. Deklarasi ini bertujuan untuk meneguhkan komitmen dan kesatuan Indonesia yang intinya menjunjung tinggi dan menghormati perbedaan sesama antar umat beragama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
"Salah satu cara yang dipakai adalah memanfaatkan momentum peringatan 40 hari sampai 1.000 hari meninggalnya Gus Dur akan menggali pemikiran Gus Dur dengan bentuk doa bersama, mendeklarasikan 'Merajut Bendera Merah Putih' dan saresehan," tegas Habib.
Chabib menegaskan, kegiatan ini sebagai wadah untuk mempersatukan komitmen rekan-rekan yang terbentuk sejak lama dari pemikiran Gus Dur. Nantinya akan dibentuk posko-posko di pesantren-pesantren, gereja-gereja, masjid-masjid dan wihara-wihara serta tempat ibadah di seluruh Magelang membuka sumbangan kain warna merah dan warna putih.
Hasil pengumpulan kain merah putih itu akan dirajut sedemikian rupa membentuk ribuan bendera dalam berbagai bentuk dan ukuran.
Dalam waktu tiga tahun ke depan, kain warna merah putih akan dikumpul dan selanjutnya dilakukan proses pemasangan bendera merah-putih di seluruh jalan Magelang. Nantinya akan dibentangkan di sepanjang relief Candi Borobudur pada acara peringatan 1.000 hari wafatnya Gus Dur.
(mok/mok)











































