"Jangan (berbisnis-red). Itu berisiko tinggi. Itu bahaya dan sudah ada contohnya," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dalam seminar nasional 'Revitalisasi Gerakan Muhammadiyah Bidang Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat' dalam rangka pra muktamar Muhammadiyah ke 46 di kampus Universitas Ahmad Dahlan (UAD) di Jalan Kapas, Yogyakarta, Sabtu (6/2/2010).
Menurut dia, letak bahayanya adalah pada masalah kepengurusan yang mempunyai batas waktu dan pergantian secara periodik. Meski bidang usahanya tidak dan bisa dilakukan terus menerus. "Lagipula setiap pengurus kan punya kebijakan yang lain-lain," ungkap dia.
Meski demikian kata dia, memang ada organisasi atau lembaga yang sukses dalam kegiatan usaha. Namun hal itu lebih disebabkan karena organisasi itu memiliki aset tanah dan bangunan yang banyak. Mereka menyewakan aset-aset tersebut ke pihak lain.
"Tidak hanya Muhammadiyah saja, NU saya kira juga ingin seperti itu dengan usaha yang banyak, tapi itu juga ada resikonya dan bisa gagal. Dulu Vatikan juga punya banyak usaha dan aset hingga bank tapi kemudian hancur," kata JK memberikan contoh.
Menurut dia, setiap usaha itu ada resikonya. Semakin besar bisnisnya, semakin besar pula risikonya. "Itu yang jadi patokan, karena semua usaha itu berisiko," katanya.
Dia menambahkan untuk menjadi seorang pengusaha juga tidak ada pendidikannya. Yang penting dilakukan adalah bagaimana memulainya. Ibaratnya seorang yang akan berenang. Meski sudah membaca banyak buku renang dengan berbagai gaya, namun bila belum pernah praktek dan langsung terjun ke sungai pasti akan tenggelam.
"Kuncinya, harus pelan-pelan masuk ke sungai dari pinggir dulu dan perlu latihan. Kalau asal masuk ya tenggelam," katanya.
Dalam akhir ceramahnya JK mengingatkan yang perlu dibangun adalah kemampuan dan semangat berusahaย bagi anggota Muhammadiyah di semua daerah, meski dengan kultur yang berbeda-beda.
"Kita hanya bisa mendorong orang-orang Muhammadiyah di daerah-daerah seperti Pekalongan, Gresik, Bandung, Padang dan daerah lain agar semangat itu muncul," pungkas dia.
(bgs/djo)











































